PENGUMUMAN kebijakan tarif impor baja dan aluminium oleh Presiden Trump pekan lalu telah memicu ketegangan perdagangan global. Kebijakan yang mendapat perlawanan Kanada, Tiongkok, dan Uni Eropa tersebut mengimbas ke pasar, nilai tukar dolar AS hari itu melemah 0,5% terhadap yen ke level 105,63, Indeks S&P 500 anjlok 1,1%, imbal hasil US Treasury 10 tahun jatuh 4 basis poin menjadi 2,84%.

Ekses negatif perang dagang yang begitu cepat mengimbas ke dalam negeri AS sendiri itu membuat khawatir para senator dari Partai Republik. "Banyak kekhawatiran di kalangan senator Republikan bahwa masalah ini akan membesar menjadi perang dagang," ujar Mitch McConnell, pemimpin mayoritas senat AS.



Sebanyak 107 anggota DPR dari Republik juga menentang rencana tarif tersebut. "Kami mendesak Anda menimbang ulang gagasan menaikkan tarif untuk menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan pada perekonomian dan pekerja AS," tulis mereka alam surat kepada Trump.

Para pengusaha AS juga mengingatkan potensi kejatuhan ekonomi AS akibat tarif itu. Arahnya bisa membahayakan ekonomi. (Kompas, 9/3/2018)

Bagi Indonesia, dalam segala bentuknya, proteksionisme AS adalah realitas yang harus dilawan. Saat ini, Indonesia tengah menghadapi sengketa atas pembatasan masuk produk biodiesel Indonesia ke AS. Pihak AS mengenakan tuduhan dumping dan subsidi pada produk biodiesel Indonesia, kasusnya disidang di pengadilan perdagangan internasional AS (USITC). Mereka menyiapkan perlawanan banding lewat mekanisme Organisasi Perdagangan Dunia.

Karena itu, antisipasi Indonesia menghadapi kemungkinan perang dagang tersebut perlu komprehensif, dari berbagai aspeknya. Sebab, hanya dengan testimoni gubernur baru Bank Sentral AS di Kongres saja, kurs rupiah ke dolar AS dan indeks harga saham gabungan kita pekan lalu rontok.

Seperti masalah yang jadi perhatian kalangan pengamat ekonomi terkait perang dagang, yang bisa memengaruhi ekspor batu bara kita ke negara pengekspor baja, seperti Tiongkok. Jika ekspor baja mereka terkendala, pasokan batu bara kita juga turun, bisa jadi baik volume maupun harganya. Kemungkinan itu bisa memukul perekonomian nasional kita.

Kemungkinan lain lagi, jika perang dagang itu dimenangkan AS, kurs dolar AS terus menguat, harga gandum dan kedelai yang telah menjadi pangan pokok bangsa Indonesia, dalam rupiah juga akan naik. Mahalnya gandum dan kedelai yang kita impor dari AS itu akan memukul rakyat jelata kita. *** (Habis)

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR