YERUSALEM (Lampost.co)--Amerika Serikat memindahkan kedutaannya di Israel ke Yerusalem Senin (14/5/2018), setelah protes global selama berbulan-bulan, kemarahan Palestina, dan pujian Israel untuk Presiden AS Donald Trump yangdinilai telah mengakhiri preseden selama beberapa dekade.

Sementara delegasi Gedung Putih dan pejabat Israel berkumpul untuk peresmian Senin sore, warga Palestina protes di dekat perbatasan Gaza dengan Israel dan mungkin tempat lain.
Ada kekhawatiran bahwa protes Gaza yang berlangsung kurang dari 100 kilometer (60 mil) akan berubah menjadi demonstrasi berdarah jika warga Palestina berupaya merusak atau melewati pagar. Di saat bersamaan Israel menempatkan penembak jitu di sisi lain.
Peresmian yang merupakan kelanjutan pengakuan Trump pada Desember 6 juga berlangsung saat meningkatnya ketegangan regional.
Hal ini juga dilanjutkan pengumuman Trump pekan lalu bahwa Amerika Serikat menarik diri dari kesepaktan nuklir Iran. Dan dua hari kemudian Israel menyerang puluhan target di Suriah.
Serangan ini dilakukan setelah pasukan Israel di dataran tinggi Golan diserang roket. Dan Israel menyalahka Iran.
Pemerintahan Trump berjanji untuk mengulang kembali proses perdamaian yang hampir mati di Timur tengah. Tetapi pemindahan Kedutaan Besar AS juga membuat seluruh dunia marah.
Pada Minggu (13/5), pemimpin Al-Qaeda, Ayman Al-Zawahiri merilis pesan baru yang mengatakan keputusan AS (memindahkan Kedubes) adalah bukti bahwa negosiasi dan ketenangan gagal didapat Palestina. Dia pun mengajak kaum Muslim melakukan jihad melawan Amerika Serikat.



Trump secara jelas dan eksplisit, kata Al-Zawahiri, mengungkapkan benar wajah perang salib modern. Baik dibalik atau tidak, ketenteraman tidak bekerja. Tetapi hanya dengan perlawanan melalui panggilan dan jihad.
Pembukaan kedubes ini akan dihadiri sekitar 800 tamu. Meskipun Trump sendiri tidak akan menghadiri acara ini.

Wakil Menteri Luar Negeri AS, John Sullivan, akan memimpin delegasi Washington yang terdiri dari putri Trump, Ivanka dan suaminya Jared Kushner, juga asisten Gedung Putih, serta Menteri Keuangan Steven Mnuchin.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berulang kali menyebut keputusan Trump 'historik', menyambut Delegasi AS pada acara penerimaan pada hari Minggu malam.
"Yerusalem telah menjadi ibu kota orang Yahudi selama 3.000 tahun," kata Netanyahu. "Ini merupakan ibu kota negara kita selama 70 tahun. Itu akan tetap menjadi ibu kota kami untuk sepanjang masa."

Sullivan menyebut pengakuan Kedutaan ini sangat terlambat dari realitas. "Polisi dan militer Israel direncanakan akan menyebar. Sekitar 1,000 polisi akan diposisikan sekitar Kedutaan dan lingkungan sekitarnya saat peresmian," kata juru bicara Micky Rosenfeld.
Tentara Israel akan hampir dua kali lipat jumlahnya. Merema akan ditempatkan di sekitarnya Gaza dan di Tepi Barat.
Warga Israel mulai merayakan pemindahan ini pada Minggu, saat puluhan ribu orang berbaris di Yerusalem. Mereka memegang bendera AS untuk menandai Hari Yerusalem.
Acara tahunan ini adalah perayaan Israel atas reunifikasi Kota berikut setalah perang 1967 selama enam hari. Israel menduduki Tepi Barat dan Timur Yerusalem pada 1967 dan menganeksasi Yerusalem Timur, yang hasilnya tidak diakui oleh masyarakat internasional.
Di luar sengketasifat Yerusalem, tanggal pemindahan kedutaan juga menjadi kunci. Tanggal 14 Mei menandai menandai 70 tahun berdirinya Israel. Keesokan harinya, Palestina menandai 'Nakba' atau bencana, memperingati larinya 700.000 warga Palestina yang diusir dari rumah mereka saat perang 1948 sekitarnya sebagai tindakan Israel.

Protez Palestina direncanakan berlanjut di hari kedua.
Selama sepekan terakhir telah ada protes dan bentrokan di sepanjang perbatasan jalur Gaza. Sebanyak 54 warga Palestina tewas ditembam tentara Israel sejak Maret 30.
Tidak ada orang-orang Israel telah terluka dan militer Israel menghadapi kritik atas penggunaan pwluru tajam. Israel mengatakan hanya melepas tembakan ketika diperlukan untuk menghentikan infiltrasi, serangan, dan kerusakan pada pagar perbatasan.
Sementara di sisi lain, Israel menuduh Hamas, gerakan Islam yang memblokade jalur Gaza, berusaha untuk menggunakan protes sebagai dalih untuk melakukan kekerasan.
Status Yerusalem kemungkinan adalah masalah paling pelik dalam konflik Israel-Palestina. Israel menyebutkan bahwa seluruh kota adalah ibu kotanya. Sementara Palestina meyakini bahwa Yerusalem Timur adalah ibu kota Palestina di masa depan.
Dalam beberapa dekade sejak 1967, konsensus internasional menyatakan bahwa status kota harus dinegosiasi kedua belah pihak. Tetapi Trump melangkahinya dan menyulut kemarahan global. Ia berpendapat bahwa itu membantu perdamaian.

 

PENULIS

MI

TAGS


KOMENTAR