BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Budidaya ikan patin di Provinsi Lampung kembali bergairah menyusul adanya program kemitraan patin. Selain pasar di dalam negeri, peluang ekspor ke mancanegara juga cukup menjanjikan. Sentra ikan patin di Lampung tersebar di lima kabupaten, yakni Lampung Timur, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Pringsewu dan Kota Metro.

Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Lampung Aribun Sayunis mengatakan pihaknya saat ini mengelola kurang lebih sekitar 250 hektare eks tambang pasir. Hasil budidaya ikan yang dikembangkan APCI di Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur selain untuk pasar lokal juga untuk memasok kebutuhan fillet (daging tanpa tulang) ikan patin.



Dia mengatakan para anggota APCI saat ini masih fokus ke pasar domestik karena permintaannya tinggi. “APCI masih fokus pada pengembangan usaha pascapanen, menjaga stabilitas harga, pemasaran, dan peningkatan konsumsi ikan di Lampung," kata Aribun, di Bandar Lampung, Selasa (17/4/2018).

Dia mengungkapkan saat ini produksi ikan patin yang diproduksi anggota APCI mencapai 200 ton/bulan dengan harga rata-rata Rp13.500 per kilo ukuran 0,8 kilo per ekor ke atas. Saat ini pemasarannya masih terbatas ke pasar lokal. Sebagian untuk diolah dalam bentuk fillet.

Aribun mengakui, belakangan harga patin sudah mulai stabil karena pemasarannya lancar. Bahkan untuk kebutuhan pengolahan dan pemasaran fillet patin, APCI juga menjalin kerja sama dengan PT Central Proteinaprima (CPP) sebagai yang punya pabrik pengolahan fillet patin.

Dampaknya, kata dia animo para petani tambak ikan air tawar untuk membudidayakan ikan patin kembali bergairah. Apalagi APCI juga menjalin kemitraan dengan pemilik kolam.

Tidak hanya sebatas itu, lanjut dia, anggota APCI juga memasok benih, pakan, dan biaya pemeliharaan kepada pemilik kolam dan hasil panennya di kontrak pada harga Rp13.500 per kilo. “Kemitraan dengan pola seperti ini sangat diminati pemilik kolam sehingga makin banyak yang menjadi mitra,” lanjutnya.

Selain menampung dari mitra, APCI juga membeli ikan patin dari pembudidaya lainnya. Syaratnya, beratnya 0,8 kilo ke atas agar selain untuk konsumsi juga bisa diolah menjadi fillet.

Ia mengatakan pemasaran ikan patin untuk pasar lokal mulai terpenuhi. “Karena itu ke depan kita akan merintis pasar ekspor yang pangsa pasarnya terbuka lebar. Apalagi belakangan peluang ekspor semakin besar menyusul banyaknya pembangunan PLTA di Tiongkok yang menimbulkan limbah sehingga perairan tawarnya sudah tidak sehat untuk budidaya ikan,” ujarnya.

Ia mengakui, soal harga menjadi kendala dalam pasar ekspor. Tapi Aribun menyatakan, pihaknya berusaha menyiasatinya dengan memproduksi fillet yang bermutu baik, warnanya putih, dan citarasanya gurih sehingga mempunyai branded (nama).

Mengenai pasokan benih patin, menurut Aribun, hingga kini berjalan lancar. Untuk pengadaan benih, APCI sudah menjalin kerjasama dengan Balai Benih Sukamandi. Bibit yang dikirim oleh Balai Benih dilakukan pendederan terlebih dahulu hingga berukuran 1 inci baru disebar kepada pembudidaya. Hal itu dimaksudkan agar tingkat kematian benih di kolam mitra bisa diminimalisasi dan masa pembesaran.

Lahan Eks Tambang Pasir

Aribun Sayunis yang juga sebagai Direktur CV. Ardiyanti perusahaan yang fokus pada budidaya ikan patin dari hulu hingga hilir ini mengungkapkan potensi perikanan tawar Lampung baru dimanfaatkan 10% dari luas lahan yang ada. "Perikanan tawar Lampung juga didukung pakan melimpah," kata Aribun.

Dia mengungkapkan pencanangan lahan eks galian tambang pasir menjadi sentra perikanan air tawar sebelumnya ditandai penaburan 200 ribu benih ikan di kolam eks tambang pasir sekaligus menjadikan Lampung sentra produksi ikan air tawar di kawasan Indonesia bagian barat, tepatnya di, Kecamatan Pasirsakti, Lampung Timur beberapa waktu lalu. Kawasan Pasirsakti mendapat sorotan nasional akibat kerusakan lingkungan pertambangan pasir.

Aribun mengatakan dari lokasi eks galian pasir, pihak APCI melalui CV. Ardiyanti sudah mengelola dan menjadikan lahan kritis seluas 100 hektare sejak tahun 2017 menjadi kolam-kolam budidaya ikan air tawar yang sebagia besar adalah ikan patin. "Dari luas lahan kritis yang saat ini sudah menjadi kolam budidaya, dikelola oleh 5 kelompok dari masyarakat setempat. Kini hasilnya pun bisa mereka rasakan, karena setiap harinya mampu memanen 10 ton ikan per hari untuk pasokan pasar lokal dan juga pengolahan coldstorage untuk jadi daging fillet," ujarnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, kemudian menugaskan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Wahana Raharja mendayagunakannya menjadi kawasan budidaya perikanan dengan menggandeng pengusaha yang tergabung dalam APCI. Upaya tersebut mendapat respon dengan terbitnya SK Menteri Kelautan dan Perikanan RI, pada 3 Juli 2013, yang menetapkan Pasir Sakti sebagai kawasan minapolitan. Kemudian Geburnur Lampung Ridho Ficardo kala itu mengukuhkan APCI sebagai asosiasi yang mengembangkan budidaya ikan air tawar (patin) di wilayah setempat.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR