ASIAN Games ke-18 tinggal menghitung hari. Pesta olahraga bangsa-bangsa Asia berlangsung di dua kota—Jakarta dan Palembang. Banyak hal menghantui kesuksesan pesta yang menghadirkan 14 ribu atlet dari 45 negara Asia. Adalah kabut asap—kualitas udara nanburuk di atas Bumi Sriwijaya dan Batavia sebagai ancaman nyata bagi kenyamanan peserta. Pesta bergengsi berlangsung 18 Agustus hingga 2 September 2018.

Tidak tanggung-tanggung, mengantisipasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, aparat kepolisian mengancam menembak pelaku pembakaran jika tertangkap tangan di lokasi kejadian. Peringatan tegas tembak di tempat disampaikan Wakil Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Brigjen Bimo Anggoro Seno.  “Sebanyak 99% kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumsel diakibatkan ulah manusia,” ujar Bimo.



Penegasan tembak di tempat untuk menjaga muruah negeri ini akibat asap kebakaran hutan. Sangat memalukan jika ada anak bangsa yang coba-coba ingin membakar hutan ketika di negeri ini menjadi perhatian besar bangsa Asia. Satu suara, satu tekad, dan satu tindakan ingin menyukseskan Asian Games 2018—bahwa Bumi Sriwijaya khususnya Palembang zero asap.

Janganlah menyalahkan kabut asap yang terjadi di mana-mana nanti akibat api dari obor Asian Games. Karena, sebuah kebanggaan dan kehormatan bahwa Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah Asian Games. Perhelatan olahraga itu pernah dilakukan di negeri ini 56 tahun lalu, yakni  Asian Games ke-4 pada 1962. Ketika itu, Indonesia serba kekurangan. Namun dalam menyediakan fasilitas dan perolehan medali patut diacungi jempol.

Kekurangan itu diperparah lagi dengan kampanye buruk yang disiarkan  surat kabar Singapura bahwa Jakarta adalah kota terjorok dengan wabah malaria mengancam.  Dengan semangat yang menggelora, tidak membuat kendur bahwa Jakarta tidak siap!

Dalam hitungan tahun, negara ini menyiapkan semua fasilitas Asian Games mulai dari arena olahraga hingga tempat tinggal para atlet, Hotel Indonesia dan Stadion Olahraga Bung Karno yang termegah adalah bukti dan saksi menyukseskannya pesta tersebut. Dalam sekejap anggapan buruk tentang Jakarta, sirnalah sudah!

Apalagi dalam perolehan medali, Indonesia berada di posisi nomor dua setelah Jepang yang meraup 73 keping emas. Indonesia dengan 21 emas sedangkan negara-negara maju saat ini seperti Korea dan Thailand ketinggalan jauh.

Pesta Asian Games itu membuat Indonesia tegak lurus dengan bangsa-bangsa Asia ini. "Revolusi keolahragaan kita adalah sebagian dari nation building Indonesia, revolusi kita membentuk manusia baru Indonesia," kata Presiden Soekarno dalam pidatonya. Dengan dibangunnya stadion terbesar di jantung IbuKota negara, menunjukkan Indonesia adalah bangsa yang besar dan mampu memimpin bangsa-bangsa di dunia ini. 

***

Sekarang pesta olahraga itu kembali ke Indonesia. Sejumlah fasilitas termegah dibangun di mana-mana agar tamu terhormat bisa menikmatinya. Terlebih lagi anak-anak bangsa di negeri ini. Yang jelas, menjadi tuan rumah Asian Games sesungguhnya kesempatan emas mempromosikan dengan berbagai destinasi wisata. Dan paling penting, mengampanyekan Indonesia adalah bangsa yang bersatu dalam perbedaan.

Faktanya seperti itu. Asian Games yang digelar di Palembang dan Jakarta itu, setelah bangsa ini usai berpesta demokrasi serentak di 171 daerah. Pemilihan kepala daerah berjalan aman. Perbedaan yang terjadi selama enam bulan itu kembali dirajut untuk kemajuan bangsa. Hebatnya lagi, Asian Games kali ini ketika Indonesia akan memilih presiden.

Patut dicatat bahwa Indonesia itu siap segalanya karena penyelenggaraan pesta olahraga tidak membuyarkan persiapan pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan berlangsung. Asian Games digelar delapan hari setelah penutupan pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden pada 10 Agustus, Jumat pekan mendatang.

Politik di dalam negeri boleh panas, tetapi harga diri bangsa menyukseskan pesta olahraga di mata negara-negara Asia tetap dijaga. Mengapa? Karena Asian Games adalah momen sejarah, terlebih lagi ketika anak-anak bangsa membawa api Asian Games dari Stadion Nasional Dhyan Chand, New Delhi,  India sebagai tuan rumah Asian Games pertama tahun 1951 ke Indonesia.

Ketika tiba di Indonesia, api pemersatu itu menjelajahi tujuh pulau, 18 provinsi, dan 53 kota di seluruh Tanah Air. Pastinya, Asian Games jadi alat pemersatu bangsa, juga mempromosikan Indonesia. Lampung akan dilewati kirab obor pada 7 Agustus mendatang. Gubernur Lampung M Ridho Ficardo bakal menerima obor itu dari Palembang di Mesuji.

Obor yang dibawa secara maraton akan diinapkan di Tulangbawang, baru keesokan harinya ke Bandar Lampung. Selanjutnya pada 9 Agustus, obor bertolak ke Banten. Selama di Tanah Lada ini, kedatangannya disambut dengan berbagai kegiatan olahraga. Lampung menanti obor Asian Games. Provinsi yang baru saja selesai menghelat pemilihan gubernur ini penuh kesadaran bersatu menyukseskan Asian Games di provinsi tetangga itu.

Seluruh anak bangsa di negeri ini bersatu mendukung pesta olahraga yang pernah membawa nama harum di dunia internasional pada  tahun 1962. Kesuksesan pesta harus dijaga. Rakyat pun akan terharu dan menitikkan air mata ketika akan menyaksikan bendera Merah Putih berkibar di podium diikuti kumandang lagu Indonesia Raya. Itu pertanda negeri ini sukses mendulang emas dan memimpin pesta bergengsi empat tahunan.  ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR