BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kondisi tekanan inflasi yang masih terbilang besar pasca Ramadan dan Idulfitri, perlu adanya langkah antisipatif secara konkrit untuk menstabilkan harga khusus komoditas pangan. 

Kepala KPw BI provinsi Lampung, Budiharto Setiawan mengatakan TPID bersama seluruh pemangku kepentingan lainnya harus memastikan kecukupan pasokan dan keterjangkauan bahan makanan khususnya holtikultura yang harganya rentan bergejolak. "Hal ini dapat dilakikan melalui pemetaan area tanam dan panen, penyediaan benih unggul dan pupuk, penataan pola distribusi dan akses sarana simpan untuk menyimpan produk holtikultura dalam jumlah besar. Selain itu, intensifikasi gerakan tanaman cabai perlu diaktifkan lagi untuk mengantisipasi permintaan yang tinggi di akhir tahun," ujarnya.



Langkah lainnya yang perlu dilakukan, kata Budi, perlu terus memastikan kelancaran kegiatan Ketersediaan Pasokan dah Stabilitas Harga (KPSH) dari Bulogdan peningkatan pemanfaatan stok beras Bulog untuk Bantuan Sosial Rastra atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Sehingga ketersediaan pasokan beras diluar musi panen dapat tetap terjaga.

"Kemudian, meminimalkan dampak inflasi yang disebabkan potensi kenaikan harga BBM dengan menjaga kecukupan pasokan dan kelancadan distribusi BBM terutama di jalur utama angkutan," kata dia didampingi Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan KPw BI, Eko Adi Irianto dan Kepala Divisi Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, dan Satuan Layanan Administrasi KPw BI Lampung, Noviarsano Manullang.

Disamping inflasi, tambahnya, pada akhir triwulan I 2019 lalu pihaknya turut memperhatikan pertumbuhan ekonomi Lampung yang tumbuh 5,18%. Pertumbuhan itu ditopang dari konsumsi rumah tangga dan perlambatan impor. "Meskipun begitu, pergerakan ekspor dan perlambatan investasi turut menahan laju pertumbuhan yang lebih tinggi," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR