TANGERANG (Lampost.co) -- Pendopo, salah satu bagian dari bisnis unit Kawan Lama Grup (grup ACE Hardware - Informa) menggelar Festival Indonesia Timur sejak awal hingga akhir Agustus 2018 di Living World Mal, Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten. Festival ini untuk mengangkat kekayaan hasil karya daerah Nusa Tenggara Timur dan Papua melalui ragam produk dan rangkaian acara menarik.

Marketing Director Kawan Lama Group Nana Puspa Dewi menjelaskan sejak dibuka tujuh tahun lalu, Pendopo berkomitmen untuk terus melestarikan budaya Indonesia melalui rangkaian produk lokal berkualitas, serta berbagai kegiatan yang secara berkala kami lakukan.



Kali ini, Pendopo sangat bangga menjadi satu-satunya retailer yang mengangkat tema Indonesia Timur, dimana diampilkan kekayaan budaya Suku Kamoro dari pesisir selatan Papua, mulai dari tenun yang bisa digunakan sehari-hari hingga ukiran yang bisa mempercantik ruangan.

"Melalui kegiatan ini, kami harap bisa mengedukasi dan menginspirasi pelanggan kami mengenai keragaman budaya, khususnya dari timur Indonesia, tidak hanya menggunakannya saja namun juga mengerti bagaimana proses pembuatanya sehingga lebih peduli dan mencintai kerajinan tradisional, serta budaya Nusantara," kata Nana.

Sepanjang Agustus 2018 Pendopo menampilkan kerajinan hasil karya tangan anak negeri, khususnya tenun dan ukiran khas Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Pelanggan bisa melihat langsung keunikan tenun Sumba yang terletak pada motif khasnya yaitu corak manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan, juga tenun Flores yang memiliki ragam hias geometris dengan aneka warna yang cerah dan mencolok.

Kain tenun yang dihadirkan dibuat dengan teknik yang masih sangat tradisional melalui proses manual yang lama dan panjang. Untuk menghasilkan selembar kain tenun memerlukan waktu 3-6 bulan karena seluruh prosesnya dilakukan secara manual terutama pada saat pemberian warna yang menggunakan tumbuh-tumbuhan alami yang hanya tumbuh di musim tertentu.

Selain beraneka tenun, beragam jenis hasil budaya lain juga dihadirkan, terutama dari suku Kamoro yang dalam kesehariannya membuat berbagai jenis ukiran dari berbagai materi mulai dari kayu, bambu, hingga tulang hewan untuk beragam keperluan.

Misalnya Yamate yang awalnya berfungsi sebagai alat menari dan juga perisai namun kini berubah fungsi menjadi dekorasi penghias dinding, atau Eme yaitu alat musik tradisional yang terbuat dari batang pohon utuh. Hasil karya lainnya yang tak kalah menarik yaitu perahu dengan ornamen berbentuk kepala manusia.

Luluk Intarti, Pendiri Yayasan Maramowe mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi dukungan Pendopo untuk terus melestarikan budaya, khususnya suku Kamoro yang sejalan dengan misi mereka, agar masyarakat luas dapat mengenal lebih dekat seni dan budaya Indonesia Timur.

Dia berharap Pendopo dapat terus menjaga nilai-nilai kearifan lokal melalui beragam produk dan kegiatan yang berkualitas.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR