KALIANDA (Lampost.co) -- Sebagian besar nelayan yang menggunakan kapal berbobot kurang dari 30 grosston di pesisir timur Kabupaten Lampung Selatan memilih tidak melaut karena kondisi perairan Selat Sunda masih terjadi angin kencang sehingga mereka tidak mau mengambil risiko.

Nelayan pesisir timur, Kecamatan Ketapang, Nasrul mengatakan, hanya ada satu atau dua kapal berbobot di atas 30 GT dan cakalan yang membongkar hasil tangkapan ikan sejak beberapa hari ini, lantaran angin kencang dan ancaman gelombang tinggi.



"Angin kencang yang terjadi di perairan Laut Jawa dan Selat Sunda berpengaruh terhadap aktivitas nelayan kapal kecil. Aktivitas lelang ikan di TPI hanya berasal dari hasil tangkapan ikan kapal besar," kata Nasrul kepada Lampost.co, Selasa (4/9/2018).

Kondisi hal yang sama juga terjadi pada nelayan di Muarapiluk, Kecamatan Bakauheni. “Selama beberapa pekan terakhir ini sejumlah nelayan kapal kecil jarang melaut karena kondisi laut masih terjadi angin kencang dan berpotensi meningkatkan gelombang tinggi,” kata Ambo Acok, salah satu nelayan di pesisir timur Muarapiluk, Bakauheni.

Ia mengatakan para nelayan kini lebih memilih memperbaiki jaring yang rusak sambil menunggu kondisi cuaca normal kembali.

"Saat ini, banyak kapal kecil hanya terparkir rapi di pinggiran atau sungai yang menuju ke pantai. Saat ini belum masuk angin baratan sehingga mereka belum berani berangkat melaut. Angin timuran membuat cuaca ekstrem," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR