KALIANDA (Lampost.co) -- Sekelompok orang berseragam merah itu berkumpul di loket penumpang pejalan kaki Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (18//2017). Satu per satu dari mereka mendekati para pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa.

Tanpa basa-basi, mereka menawarkan jasa angkut barang yang dibawa pemudik. Dengan cekatan, satu di antara mereka langsung membawa barang pemudik ke gang way Pelabuhan Bakauheni. Beban dari barang itu pun tak dipikirkan oleh mereka demi mendapatkan upah dari setiap kali angkut.
Salah satu dari kelompok pria itu adalah Sukino. Sejak lima tahun silam ia bekerja sebagai kuli panggul di Pelabuhan Bakauheni. Sukino mengaku profesinya sebagai kuli panggul tersebut cukup berat. Namun, ia tak pernah putus asa dengan profesi sebagai buruh panggul demi mengais rezeki.
Sukino yang sudah menginjak umur 42 tahun itu mengaku penghasilannya sehari bergantung dengan fisik dan kecekatan. Semakin banyak barang yang ia bawa, semakin banyak pula penghasilan yang dikumpulkannya."Profesi sebagai kuli panggul ini penghasilannya bervariasi. Bergantung dengan kekuatan fisik dan cekatan. Kalau saya sendiri paling banyak bisa mengumpulkan uang berkisar Rp500 ribu-Rp700 ribu per hari. Itu pun di saat arus mudik dan balik saja," kata warga Desa Rejomulyo, Kecamatan Palas, Lampung Selatan itu.
Bapak tiga anak itu mengatakan penghasilannya itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian, sisanya ditabung untuk kebutuhan masa depan anaknya kelak.



"Ya, untuk kebutuhan di rumah sehari-hari, Mas. Pekerjaan lain saya enggak punya. Yang jelas, saya ingin mengumpulkan uang untuk kebutuhan anak besar nanti," ujarnya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR