LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 18 July
8239
Kategori Nuansa

Tags

LAMPUNG POST | Amuk Narkotika
D. Widodo, wartawan Lampung Post. Lampost.co

Amuk Narkotika

PEREDARAN dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) sudah merasuk ke hampir seluruh wilayah di Tanah Air. Sekitar 10—15 tahun lalu, Indonesia hanya disebut sebagai jalur transit belaka.
Tetapi, kini sudah menjadi target pemasaran mafia narkotika dunia. Sejumlah kondisi menjadi pendukung utama negeri ini sebagai target pemasaran narkotika dunia. Pertama, jumlah penduduk 250 juta jiwa sangat potensial sebagai tujuan marketing. Ada target pasar yang berlimpah.
Kedua, perkembangan ekonomi Indonesia dewasa ini yang terus menunjukkan perbaikan. Hal ini dapat terlihat dari kapasitas ekonomi dan kenaikan pendapatan per kapita meskipun hal itu tidak dapat dijadikan sebagai tolak ukur utama. Jika ingin melihat secara sepintas, maraknya kemacetan di kota-kota besar dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kemajuan ekonomi.
Ketiga, kemajuan teknologi informasi dan transportasi yang memungkinkan produsen narkotika mendistribusikan barang. Pemesanan dapat dilakukan melalui berbagai aplikasi teknologi informasi yang sulit ditembus intelijen keamanan.
Faktor ketiga ini juga didukung panjangnya kawasan pesisir yang dapat dijadikan titik pendaratan. Kerawanan daerah pesisir sebagai pintu masuk narkoba dari negara luar terbukti dalam penangkapan sabu-sabu 1 ton di jalur Mumbing—Mapor, Tanjung Berakit, Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Minggu (16/7/2017) lalu. Kerawanan yang sama bukan mustahil juga terjadi di Lampung yang memiliki luas perairan laut 24,820 km2, panjang garis pantai 1.105 km, dan 130 pulau kecil. Jika tidak diantisipasi sejak dini dengan memprioritaskan pengamanan wilayah, potensi pesisir Lampung yang melimpah itu kelak justru dapat dijadikan pintu masuk narkotika.
Narkotika tidak hanya merusak masa depan anak-anak bangsa, bahkan dapat mengancurkan sebuah negara dalam perang berkepanjangan. Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) menungkap bahwa para algojo ISIS mengonsumsi narkotika jenis captagon sebelum mengeksekusi mati tawanan mereka. Obat ini menciptakan perasaan euforia bagi pengonsumsinya, membuat tentara ISIS mampu tidak tidur berhari-hari, tidak memiliki rasa takut, dan tidak gemetar ketika membunuh. Pada akhir 2015, otoritas Turki menyita 11 juta butir pil amfetamin ini dan diperkirakan akan dikirim ke Suriah sebagai bahan bakar perang kelompok ISIS.
Begitu berbahaya penyalahgunaan narkotika sehingga wajar jika seluruh elemen bangsa harus turun tangan memerangi peredaran barang terlarang itu. Bagi media massa, perang melawan narkotika antara lain dilakukan dengan tidak lagi menyebut nilai nominal barang bukti narkotika. Hal itu dikhawatirkan mendorong orang untuk masuk dan terlibat bisnis narkotika. Konversi dilakukan dengan cara memperkirakan berapa jumlah generasi muda yang bakal teracuni jika narkotika tersebut beredar di pasaran gelap.
Bentuk perang lainnya, media massa tidak melakukan liputan berupa wawancara khusus terpidana kasus narkotika yang akan dieksekusi. Liputan berupa testimoni tersebut hanya akan menjadikan si terpidana sebagai pahlawan baru di masyarakat. Sebab yang harus dijadikan pahlawan sejati adalah orang-orang yang memiliki keberanian kuat untuk memerangi narkotika. Menjadi tugas seluruh komponen bangsa untuk menghentikan amuk narkotika.

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv