BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Asosiasi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) bersama Yayasan Swadhipa menggelar sosialisasi bahaya rokok terhadap kehidupan sehari-hari. Para korban rokok juga dihadirkan dalam acara yang digelar di Aula SMA Swadhipa Natar tersebut, Minggu (21/7/2019). 
 
Agenda itu menghadirkan 100 peserta dari guru, pelajar, staf yayasan Swadhipa hingga masyarakat di Kecamatan Natar. 
 
AMKRI sendiri membawa puluhan anggotanya yang menjadi korban rokok sebagai testimoni bahwa benar adanya korban rokok itu. 
 
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana saat membuka acara tersebut mengatakan, enam juta orang meninggal dunia akibat menghisap rokok secara aktif, sedangkan 900.000 orang meninggal dunia karena perokok pasif setiap tahunnya. 
 
Reihana juga mengatakan, trend merokok bukan hanya di Indonesia saja, tetapi sudah mendunia. Saat ini Indonesia menghadapi ancaman yang cukup serius dikarenakan meningkatnya jumlah perokok. "Karena merokok sudah menjadi sebuah trend yang lazim dilakukan kapanpun dan dimanapun," kata Reihana dalam keterangan tertulis Senin (22/7/2019). 
 
Ia juga mengatakan bahwa masalah merokok saat ini telah menjadi masalah yang sangat serius. "Mengingat merokok beresiko menimbulkan berbagai macam penyakit baik kepada perokok itu sendiri maupun perokok pasif," imbuhnya. 
 
Kepala SMA Swadipha Nurpuri menegaskan sebagai tindaklanjut dari sosialisasi itu, pihaknya telah menerapkan aturan untuk memberi sanksi tegas bagi yang masih merokok dilingkungan sekolah. "bagi guru yang ketahuan merokok kami potong biaya transportnya, siswa apalagi," ujarnya. 
 
Camat Natar Eko Irawan berpendapat, bahwa iklan rokok merupakan pembodohan terutama bagi para remaja sebab saat ini diciptakan bahwa merokok itu keren dan kekinian, dihawatirkan mulai dari kecanduan rokok kemudian ingin merasakan lebih, seperti ingin mencoba narkoba misalnya. "Saya nilai satu kuncinya yaitu ke depankan ajaran agama dan dikontrol supaya terapkan," pungkasnya. 


 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR