BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lantunan lagu terdengar merdu diiringi musik tanpa pengeras suara yang dimainkan tiga pemuda, terasa syahdu ditelinga pendengar, seakan turut merasakan hangatnya curahan kata-kata yang keluar dari bibir penyanyinya.
Lagu-lagu bertempo pelan hingga sedang yang digandrungi masyarakat Indonesia di era 1990 hingga awal 2000 yang dibawakan melalui alat musik gitar, bas, dan gendang, itu mengayunkan komposisi nada menjadi irama seakan terasa menusuk sanubari.
Ya, itulah tembang-tembang lagu yang dibawakan grup musik Sego Akustik yang menamakan diri mereka bertiga. Nama awal grup musik itu diambil dari nama rumah makan tempat mereka beratraksi yang disandingkan dengan kata akustik karena jenis alat musik yang digunakan adalah alat musik tanpa sentuhan digitalisasi.
Salah satu personel Sego Akustik, Bowo mengatakan mereka tampil di rumah makan Sego yang terletak di bilangan Pahoman Bandar Lampung, itu sudah sejak beberapa tahun terakhir, guna menghibur pengunjung yang tengah menunggu pesanan atau sedang menikmati makanan di rumah makan tersebut. 
Menurutnya, dengan kehadiran grup musik Sego Akustik di sana, sejumlah pengunjung serta pemilik rumah makan merasa terhibur oleh penampilan Sego Akustik, karena jenis lagu yang dibawakan disesuikan dengan karakter pengunjung. 
"Kami membawakan lagu-lagu berdasarkan hati naluri dengan melihat siapa pengunjungnya. Kalau pengunjung rumah makan kebanyakan anak muda maka lagu yang dibawakan harus menjadi selera anak muda, begitu juga seterusnya," kata dia kepada lampost.co, Jumat (4/5/2018) malam.

Atas hiburan yang disuguhkan kepada pengunjung, menurutnya cukup banyak pengunjung dengan ikhlas memberikan sejumlah uang yang diletakkan di dalam kotak berbahan kayu, sebagai ucapan bahwa telah terhibur selama berada di rumah makan.
"Untuk urusan pemberian materi dari pengunjung kami terima seadanya tanpa ada paksaan. Berapapun yang kami hasilkan dihari itu, itulah rezeki kami bertiga dan dibagi sama rata," ujar Bowo.
Menurutnya, mengihibur pengunjung tidak sekedar mencari materi semata, melainkan dapat menyalurkan bakat seni yang dimiliki untuk terus dikembangkan.
"Kebetulan kami bertiga memang suka bermain musik dan dipertemukan dalam satu kesempatan ini. Rezeki yang kami hasilkan setiap hari digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari," kata dia.



 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR