SEMUA orang harus bisa berpegang pada pendiriannya. Namun pendirian itu juga harus sesuai dengan ajaran agama, sehingga saat dijalankan sudah dengan energi Tuhan.
Begitu Kacung membaca dengan keras isi sebuah artikel seorang ulama ternama di daerahnya, dalam lembaran koran. "Wah... ini bagus juga untuk pedoman dalam menjalani hidup, biar tidak salah jalan, Nem," sapa Kacung pada sahabatnya, Inem.
"Salah jalan piye to, Bang," kata Inem. "Lah aku ini sudah menjalankan perintah agama dengan baik, ya semua kita serahkan pada Gusti Allah."
"Na... itu lah yang namanya energi Tuhan, kalau kita istikamah. Dang sekhbok-sekhbok nyalahkan ulun," jawab Kacung. "Ini orang mau menegakkan Alliwa alias panji-panji tauhid, kok malah diusar-usir. Kan tidak benar itu."
Kacung menjelaskan adanya sebuah majelis pengajian yang tiba-tiba dibubarkan hanya karena prasangka. Sebuah kelompok menyangka kelompok lainnya melanggar hukum negara, padahal pengajian itu ya berisi tentang ketauhidan.
"Jangan sampai ada orang ketakutan menegakkan Alliwa, hanya karena ancaman kelompok lain. Aparat harus bisa menjalankan tugasnya ini," kata Kacung lagi.
Inem diam seribu bahasa karena dia awalnya sangat tertarik mengikuti pergerakan ormas yang di dalamnya, kakaknya ikut. Dia pun mengingat-ingat, apakah pembubaran pengajian itu di kampungnya di Pulau Jawa. "Mudah-mudahan tidak...." Inem menggumam.
"Kan jelas, Nem, jangan lihat orangnya, tetapi apa isi yang dikajinya itu. Sesuaikan dengan syariat, kalau sesuai ya diikuti," ujar Kacung. "Dang sampai Alliwa aga khungkak ulehni kham khibut gawoh."
"Ya jangan sampai ributlah, kalau kita sadar sesama saudara seiman. Begitu juga dengan saudara-saudara kita sebangsa dan senegara. Jangan sampai terpecah belah," begitu Inem menjawab Kacung.
"Payu kidah Inem, sai penting kham dang khibut. Tapi tidak ada salahnya dong saya ingin menjaga panji-panji tauhid Rasulullah. Itulah yang biasa kita sebut Hafizh Alliwa," ujar Kacung meyakinkan Inem. Bismillah...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR