LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 14 June
2070
LAMPUNG POST | Alat Pemersatu
D. Widodo, wartawan Lampung Post. Lampost.co

Alat Pemersatu

PADA mulanya hanya sebentuk kata, yakni alat. Tapi, dari sinilah kita dapat melihat perkembangan peradaban manusia. Pada awal peradaban, seperangkat alat berburu dan meramu menjadi tumpuan manusia untuk bertahan hidup.
Zaman terus bergerak. Kehidupan manusia dikelilingi berbagai peralatan, mulai dari perkakas kecil hingga beraneka jenis mesin mekanik berukuran raksasa. Begitu pentingnya peralatan, para ahli filsafat dan pemikir ekonomi memilah perangkat peralatan itu dalam kelompok alat produksi berdasar kepemilikannya.
Penganut sosialisme melihat hak kepemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi adalah penyebab utama kemiskinan, perbudakan, dan kesenjangan kekayaan yang tajam antara kelompok berpunya dan si miskin. Untuk menuju kemakmuran, pendukung sosialisme meyakini hak kepemilikan pribadi terhadap alat-alat produksi harus dikuasai negara.
Beda lagi menurut penganut Marxisme. Alat produksi tidak lagi dikuasai oleh negara, tetapi dikuasai secara egaliter oleh masyarakat komunal, yakni sekelompok orang yang saling berbagi kepemilikan dan tanggung jawab. Sementara bagi pengusung kapitalisme, hak kepemilikan alat produksi harus dikuasai secara privat oleh warga negara. Kepemilikan privat diyakini akan menumbuhkan inovasi dan secara bersama-sama akan mendorong kesejahteraan umum.
Sebentuk kata bernama “alat” begitu menentukan bahkan bisa membelah manusia dalam perbedaan “isme”, sehingga muncullah penganut sosialisme, marxisme, dan kapitalisme. Sejauh ini memang pertarungan isme itu secara nyata dimenangkan oleh kapitalisme. Marxisme/komunisme di Uni Sovyet hancur berkeping-keping. Paham yang sama di Tiongkok juga mulai tergerus ketika Negeri Panda itu mengakui keabsahan hak kepemilikan perorangan.
Hanya Kuba dan Korea Utara yang masih bertahan. Dua negara itu menjadi contoh nyata bagi dunia tentang kegagalan paham komunisme memberikan kesejahteraan bagi warga negara. Karena itulah, agak mengherankan ketika belakangan ini muncul isu kebangkitan PKI. Sebab, semua orang bisa melihat sendiri betapa sulitnya hidup di negeri komunis otoriter seperti di Kuba dan Korea Utara.
Jika alat produksi bisa membelah manusia dalam perbedaan paham politik, bagaimana dengan Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa? Apakah alat pemersatu itu justru bisa menjadi sumber perpecahan? Jawabannya jelas, tidak! Sebab, Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai alat pemersatu.
Ada landasan filosofi dan budaya di dalamnya. Ada landasan ideologi yang inheren di dalam alat pemersatu itu. Landasan ideologi tidak harus seluruhnya serta merta tercapai saat ini juga. Sebagai kata sifat, ideal itu mirip seperti adil. Ideal dan keadilan sejati hanya ada di surga.
Di dunia ini tidak ada yang benar-benar ideal dan benar-benar adil. Yang ada adalah keadaan mendekati ideal atau mendekati keadilan. Itu sebabnya jika ada beberapa sila dalam Pancasila belum tercapai, bukan berarti Pancasilanya yang harus diganti. Mungkin metode dan prosesnya yang harus diperbaiki. Bukan alatnya yang harus diganti, tapi cara menggunakan alat itu yang harus dievaluasi.

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv