LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 15 July
7726

Tags

LAMPUNG POST | Alarm Kemiskinan Kota Metro
Ilustrasi kemiskinan. soksinews.com

Alarm Kemiskinan Kota Metro

SELAMA ini perdesaan selalu identik dengan ketertinggalan dan kemiskinan. Hal itu tidak lepas dari mata pencaharian penduduk desa yang sebagian besar bercocok tanam dan sangat bergantung pada perubahan musim.
Namun, kecenderungan munculnya kemiskinan di perdesaan mulai bergeser. Sejak tahun 2016, di Lampung ada peningkatan angka kemiskinan di perkotaan sebesar 13,77%. Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik pada Maret 2016, tercatat warga miskin di Lampung sebanyak 1,170 juta jiwa atau 14,29% dari total penduduk Lampung.
Dari hasil survei tersebut, jumlah warga miskin di dua kota sebanyak 233,39 ribu jiwa, dari jumlah penduduk Bandar Lampung sebesar 960.695 jiwa dan Metro 155.992 jiwa.
Data terbaru, Dinas Sosial Metro mencatat jumlah kemiskinan di bekas ibu kota Lampung Tengah itu naik sebesar 36,6% atau 8.515 keluarga dibandingkan tahun 2016 sebanyak 6.000 keluarga. Data tersebut bersumber dari Dinas Sosial dan diungkapkan Tim Pansus DPRD Metro di gedung DPR, Kamis (13/7/2017).
Naiknya jumlah keluarga miskin berkorelasi dengan permintaan kartu sehat yang didanai APBD, yakni mencapi 9.000 dari pagu anggaran untuk 11 ribu keluarga. Memang, meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak lepas dari naiknya garis kemiskinan periode 2013—2015 sebesar Rp41.774 per kapita per bulan atau 15,30%, yaitu dari Rp273.117 menjadi Rp314.891.
Kenaikan garis kemiskinan itu jelas berimplikasi pada penurunan peringkat, yakni semula tidak miskin menjadi miskin. Akan tetapi, data tersebut juga menjelaskan penduduk yang berada di atas garis kemiskinan tidak mampu mendorong penghasilan mereka lebih tinggi. Tidak heran, begitu garis kemiskinan dinaikkan, mereka turun peringkat menjadi kelompok miskin.
Kemiskinan perkotaan sebenarnya bukan hal baru, terutama yang menjadi daerah tujuan urbanisasi. Kawasan kumuh di perkotaan banyak yang menjadi sarang kriminalitas dan peredaran narkoba. Namun, untuk Metro yang hanya berpenduduk sekitar 155 ribu jiwa, kenaikan angka kemiskinan ini harus menjadi alarm bagi semua pihak, khususnya Pemkot Metro dan DPRD.
Pemerintah Pusat sudah meluncurkan program Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera, tetapi itu saja belum cukup. Harus ada upaya dari Pemkot Metro dan DPRD untuk mempercepat realisasi program penanggulangan kemiskinan melalui strategi anggaran dan regulasi baru.
Mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah hendaknya tidak hanya menjadi jargon saat kampanye. Demikian pula usaha menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru. Jangan sampai menjadi ironi, para pemilik modal menutup tempat usaha dan menggeser kegiatan ekonomi ke daerah lain.
Semua pemangku kepentingan di Metro sudah saatnya duduk bersama membahas upaya menanggulangi kemiskinan. Kemudian merumuskan metode baru disesuaikan dengan karakteristik wilayah, sosial, dan budaya. Gaya kepemimpinan yang adem pun perlu segera diubah dengan menciptakan langkah terobosan. Langkah-langkah besar sering berisiko. Namun, jika tidak segera dilaksanakan, dampak negatifnya akan dirasakan dalam jangka waktu lama.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv