KALIANDA (Lampost.co) -- Aktivitas letusan dan kegempaan Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda bagian selatan hingga saat ini masih tinggi dengan status waspada level II.

Untuk itu, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau merekomendasikan kepada nelayan maupun wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari gunung api setinggi 305 meter dari permukaan laut (mpdl).



Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi di Hargopanuran kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan mengatakan aktivitas GAK hingga kini fluktuatif dan masih tinggi.

Meski belum ada peningkatan status menjadi siaga level III, Andi mengimbau nelayan dan wisatawan tidak mendekat dalam radius dua kilometer dari gunung api tersebut.

“Aktivitas letusan dan kegempaan naik turun dan masih tinggi. Kemarin. saja masih terjadi letusan 228 kali disertai gempa tremor menerus dengan amplitudo: 7 - 45 mm dominan 30 mm,” kata Andi kepada Lampost.co, Kamis (6/9/2018).

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau periode pengamatan Rabu (4/9/2018) pukul  00:00-24:00 WIB, secara visual gunung jelas hingga kabut 0-III, asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 100 meter di atas puncak kawah.

Sementara pada malam hari dari cctv teramati sinar api. Pada saat itu juga telah terjadi kegempaan tremor menerus dengan amplitudo: 7 - 45 mm, dominan 30 mm.

Sedangkan periode pengamatan Selasa (3/9/2018) pukul 00:00-24:00 WIB, kondisi cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat dengan suhu udara 25-31 °C, kelembaban udara 47-97 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg. 

Secara visual asap kawah tidak teramati. Visual dari CCTV teramati sinar api, terdengar suara dentuman dan getaran kaca yang dirasakan lemah di Pos PGA. Terekam letusan 228 kali, hembusan 62 kali, vulkanik dalam sekali disertai gempa tremor menerus (Microtremor) dengan amplitudo 3-43 mm (dominan 15 mm).

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR