BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Lampung Sundanese Arts Festival(LSAF)#5 segera dihelat kembali di Lapangan Tritura, Kecamatan Kedondong, Pesawaran, Jumat hingga Minggu (26-28/7/2019). Festival Seni Budaya Lampung dan Sunda yang digelar sejak 2010 itu diharapkan menjadi ajang kolaborasi yang apik antara budaya Sunda dan Lampung.
Hal itu disampaikan Ketua Formas Sunda Ngumbara Provinsi Lampung, Bustomi Rosadi. Menurutnya, akulturasi dan kolaborasi dua budaya ini bisa saling menguatkan. 
"Kami berharap ada kolaborasi yang apik antara budaya Lampung dan Sunda. Tidak ada lagi gap," kata Bustomi saat bersilaturahmi ke kantor Lampung Post, didampingi pengurus LSAF ke-5 Lampung, Rajabasa, Bandar Lampung, Kamis(25/7/2019). 
Sebanyak 150 peserta dari 12 kabupaten/kota di Lampung berlomba dan memperebutkan piala bergilir gubernur. Serangkaian lomba yang diselenggarakan itu diantaranya Kuliner Sunda dan Lampung, Anggana Sekar atau menyanyikan lagu-lagu Sunda yang dilakukan oleh satu orang(sorangan), Rampak Silat, Tari Bedana, Tari Jaipongan, Baca Puisi/Sajak Sunda, Rampak Sekar (Vokal Grup), serta Bazar dan Eksebisi Ayam Pelung. 
Sementara itu, Sekretaris Panitia LSAF kelima Lampung, Undang Rosidin, mengungkapkan tiap kabupaten itu akan mempertontonkan kearifan lokal masing-masing dan mempromosikan wisata andalan yang ada di kabupatennya. Untuk memilih pemenang dari serangkaian lomba tersebut ada delapan juri berkompeten diantara tiga juri dari Paguyuban Pasundan(Jawa Barat), tiga akademisi Unila yang peduli budaya Sunda, dan dua perwakilan dari paguyuban provinsi. 
Tokoh Paguyuban Pasundan, Yus Rustandi, menjelaskan Paguyuban Pasundan adalah organisasi budaya Sunda yang berdiri sejak 20 Juli 1913. Menurutnya, Paguyuban Pasundan menjadi salah satu organisasi tertua yang masih eksis sampai saat ini. Selama keberadaannya, organisasi ini telah bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. 
Ia menambahkan paguyuban ini berupaya melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda tetapi semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR