GUNUNG SUGIH (Lampost.co) -- Tangis bocah laki-laki tiga tahun memecah suasana sore yang tenang di Dusun 3, Kampung Cabang, Kecamatan Bandarsurabaya, Lampung Tengah, Jumat (2/3).

Ketika Lampost.co mendekati asal-usul suara tangis itu, nampak seorang ibu tengah memandikan bocah lelaki di depan rumahnya. Mungkin, seorang ibu memandikan bocah tiga tahun bukan pemandangan yang aneh. Tetapi setelah diperhatikan, ibu itu memandikan anaknya di depan rumah yang tergenang banjir setinggi pinggang orang dewasa.



Lebih miris, meskipun menyediakan alat berupa ember dan gayung, sang ibu tidak menggunakan air dari dalam ember untuk memandikan buah hatinya. Melainkan langsung menciduk air sungai yang meluap dan membanjiri rumah dan pekarangannya.

Siti Junaidah, sang ibu, mengaku sejak terjadi banjir sepekan lalu, sulit baginya mendapat air yang benar-benar bersih untuk mandi anak-anaknya. Maka, air sungai yang membanjiri Kampung Cabang itulah yang digunakan semua warga untuk mandi, termasuk ia dan keluarganya.

Ibu dua anak ini mengakui khawatir anak-anaknya terkena penyakit akibat mandi air banjir. Tetapi keadaan memaksa ia memandikan anak-anak dengan air seadanya. Sebab dia juga khawatir jika anak-anaknya sama sekali tak mandi

"Iya, sekarang saja sudah mulai gatal-gatal. Tetapi bagaimana, tidak ada air. Kalau tidak mandi juga bisa kena penyakit. Kalau maksain beli untuk mandi, jangan-jangan tidak makan," kata Junaidah yang terus memandikan putra keduanya sambil membujuk agar berhenti menangis.

Mengenai air yang ada di ember, ia menjelaskan itu juga air banjir yang dimasukkan ember karena akan digunakan mencuci.

Menurut Siti Junaidah, ada beberapa orang yang biasa berkeliling menjual air bersih. Harganya Rp3 ribu perjeriken. Tetapi, ia dan keluarganya hanya mampu membeli untuk cadangan minum. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, air banjir itulah yang tersedia.

"Kalau untuk minum dan masak kami beli. Tapi mandi dan mencuci ya ini," ujarnya sambil berupaya tersenyum.

Melihat kondisi Kampung Cabang, banjir merendam hampir semua rumah dan pekarangan di sepanjang jalan utama yang menghubungkan kampung itu dengan kampung-kampung di kecamatan sebelahnya. Kampung Cabang adalah kampung terujung di Bandarsurabaya. Bagian terujung kampung ini adalah muara dan disebrangnya sudah masuk wilayah Kabupaten Tulangbawang.

Salah seorang warga yang kebetulan bertemu Lampost menjelaskan, di belakang rumah-rumah warga yang kini terendam banjir, banyak terdapat kandang ayam dan ternak lain. Di belakang sejumlah rumah juga terdapat septictank. Semua kini ikut terendam banjir. Warga yang enggan menyebut nama itu juga mengakui bisa saja air banjir bercampur dengan berbagai macam kotoran. Tetapi air kotor itulah yang tersedia, dan digunakan warga korban banjir, meskipun terpaksa.

Plt Bupati Lampung Tengah Loekman Djoyosoemarto menyatakan pengadaan bantuan air bersih perlu perencanaan. Pihaknya perlu mengkaji bagaimana membantu warga Kampung Cabang agar memiliki sumber air bersih. Bantuan itu nantinya bisa berupa sumur bor.

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR