Lampost.co -- Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. Sebagai organisasi yang concern menyosialisasi dan mengampanyekan pentingnya memberikan ASI ekslusif dan dilanjutkan hingga usia dua tahun. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Lampung memiliki kegiatan rutin, baik yang dilaksanakan secara mingguan, bulanan, maupun tahunan.
Ketua AIMI Lampung Upi Fitriyanti menguraikan sampai saat ini pihaknya terus berkampanye dan mendorong para ibu pekerja maupun di rumah untuk memberikan ASI ekslusif. Sebab, selain memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak, juga makin mendekatkan atau bonding antara orang tua dan anak. Bahkan ASI merupakan hak anak sehingga orang tua berkewajiban untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.
"Ada banyak sekali manfaat yang didapatkan dari ASI, salah satunya sumber energi yang didapat dari ASI yang tidak ada di susu formula. Selain itu menyusui secara langsung akan meningkatkan bonding antara ibu dan anak," ujar Upi.
Manfaat lainnya yaitu ASI memiliki semua kandungan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Oleh karena itu, bayi usia 0—6 bulan tidak perlu diberi makanan atau susu tambahan karena semua kebutuhan tubuh sudah terpenuhi oleh ASI.

Sediakan Ruang Diskusi



Belum lama ini AIMI juga menggelar kelas edukasi makanan pendamping ASI (MPASI) yang diikuti 45 peserta. "Tujuan kegiatan tersebut agar empat rekomendasi WHO dalam pemberian makanan bayi dapat diketahui seluruh orang tua,” kata Upi.
Dia mengatakan pada kelas tersebut ada beberapa materi yang disampaikan, di antaranya pentingnya MPASI, MPASI pedoman gizi seimbang, dan tantangan MPASI. “Peserta juga diberitahu tentang cara mengolah bahan makanan melalui video tutorial selain demo tekstur MPASI berdasarkan usia bayi,” ujar ibu dua anak tersebut.
AIMI juga aktif melakukan kegiatan berupa home visit, yakni pendampingan kepada ibu maupun calon ibu untuk mendapatkan pemahaman tentang menyusui. "Ternyata banyak sekali tantangan bagi ibu menyusui, mulai dari ASI-nya sedikit, kemudian peletakannya yang kurang tepat dan lain-lain. Oleh karena itu, kami datangi langsung untuk mendampingi," kata alumnus Fakultas Pertanian Unila tersebut.
Komunitas yang didominasi para ibu ini juga aktif melakukan pertemuan setiap bulannya. Selain membahas program kerja dan rencana kegiatan ke depan, kegiatan tersebut diisi dengan arisan bergilir ke rumah-rumah anggota sehingga mempererat hubungan silaturahmi sesama pengurus dan anggota.
Tidak hanya itu, sebagai komunitas yang aktif menangani masalah menyusui, AIMI aktif memberikan ruang terbuka untuk bertanya bagi anggota dan masyarakat yang nantinya setiap pertanyaan yang diajukan akan dijawab langsung konselor.
"Biasanya kami membuka ruang diskusi membahas suatu masalah lewat live and chat atau lewat grup anggota. Dari sana kami bisa sharing dan mencari solusi untuk sebuah permasalahan. Sebab, menyusui itu ternyata sangat kompleks, tidak semudah yang kita bayangkan. Butuh kerja sama dan bantuan orang terdekat, terutama suami dan keluarga."
Ia berharap melalui wadah ini makin banyak masyarakat yang mendapatkan informasi tentang ASI untuk mewujudkan generasi sehat dan cerdas.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR