WAKIL Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief ditangkap Tim Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Minggu (4/3) malam. Polisi menemukan sejumlah barang bukti seperti alat isap sabu-sabu (bong), kondom, sejumlah bungkus rokok, dan minuman.

Mantan Komisaris PT Pos Indonesia ini diamankan bersama seorang wanita berinisial L. Hasil tes urine yang dilakukan polisi, mantan aktivis 1998 asal Lampung itu positif mengandung zat narkoba jenis sabu-sabu.



Ditangkapnya Andi Arief menimbulkan banyak komentar dari berbagai pihak, baik itu kalangan politikus, masyarakat luas, khususnya partai. Banyak yang terkejut, tidak sedikit pula yang mengait-ngaitkan dengan sepak terjang Andi Arief terutama statusnya di media sosial yang menimbulkan kehebohan seperti tujuh kontainer surat suara tercoblos.

Seolah tahu segalanya, mereka menyimpulkan bahwa yang dilakukan Andi Arief itu karena terpengaruh narkoba. Sementara itu, di lain sisi, sebagian kalangan menyalahkan pemerintahan saat ini yang tidak mampu menekan peredaran narkoba sehingga Andi Arief menjadi korban.

Apa pun itu, sebaiknya kita tidak saling menjelek-jelekkan apalagi memanfaatkan momentum terungkapnya aib seseorang untuk saling menjatuhkan. Sudah saatnya kita mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa ini agar tidak melakukan hal yang tidak terpuji karena cepat atau lambat pasti Allah akan membuka aib kita.

Sebab, setiap manusia di muka bumi ini pasti mempunyai aib, hanya saja ada yang dibuka oleh Allah dan ada yang ditutupi. Maka dari itu, janganlah kita berlebihan menanggapi atau mengomentari di muka umum terhadap seseorang yang aibnya sudah dibuka oleh Allah. Tidak menutup kemungkinan besok atau lusa aib kita yang akan dibuka.

Untuk itu, beryukurlah karena Allah masih menutupi aibmu. Jangan lupa pula berterima kasih lah kepada orang yang masih merahasiakan aibmu. Kita akan menjadi teramat hina ketika Allah mengungkap aib kita dan orang yang menyimpan aib kita tiba-tiba menyebarluaskannya.

Daripada disibukkan dengan aib orang lain lebih baik kita memperbaiki kesalahan yang lampau, memperbaiki diri dengan berbuat baik, dan memohon ampun kepada-Nya. Ibarat kaca yang berdebu, kalau setiap hari di lap, maka terus bening. Begitu pula kesalahan yang terus ditebus dengan tobat, insya Allah akan lebih menjadi pribadi yang baik.

Kita dianggap baik bukan karena kebaikan, tapi karena Allah menutupi aib-aib kita. Sungguh berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR