JAKARTA (Lampost.co)--Mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menyatakan bersedia memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Aher sudah dua kali mangkir dari panggilan sebagai saksi terkait kasus dugaan suap izin proyek pembangunan Meikarta di Bekasi.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan hari ini sekitar pukul 10.00, Aher menghubungi call center 198. Dia menyampaikan kesediaan hadir menjalani pemeriksaan penyidik besok, Rabu, 9 Januari 2019.



"Kami hargai hal tersebut karena pada dasarnya memenuhi panggilan penyidik sebagai saksi adalah kewajiban hukum," kata Febri saat dikonfirmasi, Selasa (8/1/2019).

Aher telah mangkir dari panggilan penyidik pada Kamis, 20 Desember 2018, dan Senin, 8 Januari 2019. Surat pemanggilan pertama dan kedua telah dilayangkan ke alamat rumah Aher secara patut.

Aher muncul dalam kasus Meikarta saat namanya disebut saat pembacaan dakwaan oleh empat terdakwa yakni pegawai Lippo Group Henry Jasmen, Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, dua konsultan Lippo Group yaitu Taryudi dan Fitra Djaja Purnama di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung.

Keempat terdakwa diduga memberikan sejumlah uang kepada beberapa penjabat Kabupaten Bekasi guna memuluskan izin pembangunan proyek Meikarta di Bekasi.

KPK terus mendalami skandal suap Lippo Group. Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady, dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus telah diperiksa dalam kasus ini.

Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni, dan Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi juga dimintai keterangan.

Teranyar, Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono diperiksa penyidik. Dari semua pemeriksaan itu, terungkap adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dan Neneng.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR