MUSIM tanam gaduh menjadi musim dilematis bagi para petani padi yang bercocok tanam di sawah, apalagi bagi para petani sawah tadah hujan. Karena ketersediaan air sebagai sumber utama kehidupan tanaman padi, musim tanam kemarau ini para petani keterbatasan dalam memperoleh air karena hujan jarang turun.

Menanam di sawah tadah hujan, petani hanya mengharap turunnya air hujan. Jika air hujan tak turun, otomatis lahan sawah petani akan kering dan tanaman padi yang ditanam akan ikut mengering dan tidak akan menghasilkan produksi padi.



Berbeda dengan sawah irigasi atau sawah dekat aliran sungai yang bisa mengandalkan pengairan sawah dengan air irigasi atau sungai. Namun, kembali kepada musim gaduh atau kemarau. Sebab, intensitas curah hujan juga sangat memengaruhi debit air irigasi maupun sungai. Bahkan, jika terjadi kemarau panjang, debit air irigasi dan sungai pun bisa mengering dan petani tidak dapat bertanam padi.

Dilematis, tanam gaduh tidak pernah bisa ditanggalkan oleh para petani di Indonesia. Walaupun pemerintah sudah meluncurkan berbagai upaya dalam menyediakan pasokan air pertanian, seperti pembuatan embung dan waduk, tetap saja belum bisa mengatasi dilematis tanam gaduh, karena jumlah dan sebarannya masih terbatas.

Mau tidak mau, untung atau rugi menjadi pilihan petani saat tanam gaduh. Saat ambang kekeringan masih dapat ditoleransi oleh tanaman padi, maka tanaman padi masih bisa menghasilkan produksi panen. Namun, jika kekeringan yang melanda sampai membuat kontur tanah retak-retak, hanya kerugian yang bisa diterima para petani.

Sebagian petani hanya memanfaatkan tanaman padi yang mulai layu mengering untuk pakan ternak. Itu pun jika petani yang memiliki ternak. Jika tidak, tanaman padi hanya dibiarkan mati mengering.

Andaikan saja ada program sejuta sumur bor, khususnya untuk sawah tadah hujan, mungkin para petani bisa meminimalkan kekeringan dan mengatur pengairan sawah agar tanaman padi yang ditanam pada musim gaduh bisa menghasilkan produksi panen. Minimal petani bukan hanya bisa mengandalkan air hujan sebagai pengairan, tetapi ada cadangan air di sumur bor.

Dengan memiliki sumur bor, para petani akan memiliki secercah harapan akan mendapatkan panen padi di musim tanam gaduh. Petani hanya berharap dan berharap kepada pemerintah, karena biaya membuat sumur bor terbilang cukup mahal bagi kalangan petani.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR