DALAM gagasan suku pemburu kepala, kepala yang baru disembelih merupakan tempat kekuatan gaib orang yang terbunuh. Penyiksaan dalam Irawan sebelum pembunuhan masih belum jelas maknanya.

Tombak dan belati akan menyebabkan korban kehilangan banyak darah. Oleh karena itu, mungkin pengurbanan darah pada pembunuhan sebenarnya dapat dilihat di pemandangan penyiksaan ini yang memiliki makna dan tujuan yang sama dengan penyembelihan lima kerbau.



Darah dari kurban manusia dan kerbau saat pembunuhan ditampung dan dicampur. Pencampuran dengan air tampaknya hanya untuk mengencerkan agar mencukupi untuk dioleskan pada keluarga terbunuh. Begitu juga pengolesan dengan darah pada keluarga yang hadir merupakan adat khas untuk bangsa yang hidup dengan bercocok tanam ini.

Larangannya, mengurbankan budak warisan untuk Irawan adalah pelanggaran aturan keras. Di sini muncul istilah pusaka, warisan keluarga yang suci menurut tradisi. Selain itu, budak juga merupakan anggota dari suku.

Du Bois menceritakan bahwa dia sendiri bertemu dengan sekelompok orang Abung dari kampung Bakuran di tepi kiri Sungai Tulanngbawang pada Januari 1819. Orang Abung ini dipimpin kepala kampung Sultan Ampat Blas Tiuh. Mereka membawa seorang tahanan yang berasal dari daerah selatan Komering. Orang Komering ini harus dibunuh dengan Irawan.

Pengamatan atas proses ini menghasilkan beberapa penjahat sebelumnya telah menangkap istri dan anak dari Sultan Ampat Blas Tiuh lalu menjualnya ke Palembang sebagai budak. Sebagai bagian dari perbaikan perselisihan yang muncul karena hal itu, para penjahat tersebut diusir dari wilayah Komering sebagai Irawan pada pihak yang dirugikan.

Cerita ini memiliki semua kriteria kenyataan yang diperlukan berdasarkan informasi yang objektif. Merupakan hal amat penting bagi sejarah budaya orang Abung karena cerita ini memberi tahu kita bahwa tidak ada gagasan tentang perburuan kepala dan kurban darah, melainkan juga adat tradisinya sendiri hingga masih ada sampai sekarang.

Kampung Bakutan di tepi Sungai Tulangbawang masih berada di wilayah permukiman kelompok Abung Mego Pak. Gelar dari pimpinan desa memiliki arti sultan dari 14 desa. Istilah sultan atau yang sekarang bernama sutan menunjukkan ia berjenis kelamin laki-laki yang telah naik pepadun.

Pada 1819, du Bois mengalami kejadian yang tidak dialami seorang penduduk kampung Tiginonnong bahwa saudara laki-lakinya, penduduk Kampung Gunung Dewa di Way Seputih sebelum dibunuh. Lalu, penduduk desa musuh berkewajiban memberikan dua kepala manusia, seorang manusia, satu kerbau yang masih hidup dan pemberian berharga lainnya.

Kurban manusianya adalah seorang budak yang dibeli seharga 8 keset anyam. Siengamatta menunjukkan tempatnya kepada du Bois di mana Irawan dikurbankan, juga lokasi-lokasi di mana kedua kepala dan Irawan yang dikurbankan dikuburkan. Di situ disebutkan bahwa kepala Irawan terkubur pada tangga ke rumah Siengamatta. Adat umumnya memberi ketentuan bahwa kepala yang disembelih dikuburkan di kaki orang yang terbunuh.

Kampung Tiginonnong yang disebut du Bois kini tidak dapat lagi diidentifikasi. Kampung Gunung Dewa di mana si pembunuh tinggal, disebut dengan Way Seputih. Seluruh daerah Sungai Seputih termasuk wilayah permukiman Buwei selatan kelompok Abung Sewu Mego. Siengamatta yang disebut berkali-kali.

Teginonnong yang sekarang berada di wilayah permukiman suku Pubian. Nama Siengamatta juga tidak familier di telinga orang Abung sekarang. Namun, tidak diketahui apakah ini karena kekeliruan catatan du Bois. Namun, tidak diragukan bahwa si pembunuh adalah orang Abung. Di lokasi lain, du Bois menyebut lagi sebuah tempat bernama Tiginonnong yang terletak di wilayah Tulangbawang Abung Mego Pak.

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR