MUDIK telah menjadi ritual tahunan sekaligus tradisi mendarah daging bagi sebagian masyarakat Indonesia menjelang hari raya. Meski terkesan biasa, aparat pemerintah harus memberikan pelayanan dan pengawasan ekstraketat agar pemudik nyaman.
Untuk arus penumpang menjelang Iduladha tahun ini, Mabes Polri melansir jumlah pemudik mencapai 66 ribu orang. Jumlah itu meleset jauh dari target yakni 93 ribu pemudik. Untuk arus balik, aparat pun memprediksi tak jauh dari arus mudik.
Sejak awal keberangkatan, puluhan ribu pemudik itu tentu berharap aktivitas dapat berlangsung lancar dan mereka selamat sampai tujuan. Begitu pun saat pulang dari kampung halaman menuju kembali tempat perantauan. Miris jika pemudik harus terkendala apalagi telantar di perjalanan, apalagi hingga pemudik harus pasrah lantaran tidak bisa salat hari raya di kampung halaman. Momen berharga menjalankan salat id bersama keluarga pun pupus seketika.
Ketidakberuntungan itu dialami ribuan pemudik liburan Iduladha 1438 H yang telantar di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, selama lima jam pada Jumat (1/9) dini hari. Kurangnya armada membuat pemudik berebut naik bus. Otoritas perhubungan jelas tidak memiliki persiapan khusus menghadapi angkutan libur Iduladha 2017. Akibatnya, jumlah angkutan yang minim tidak mampu mengangkut penumpang yang membeludak. Ruang tunggu layak juga tidak disediakan, sehingga pemudik menunggu dengan berdiri atau duduk di jalanan.
Kondisi itu menyebabkan kerugian besar bagi penumpang yang terpaksa membayar mahal untuk mendapatkan angkutan. Penumpang yang telantar mau tidak mau menjadi mangsa oknum awak bus yang menarik ongkos lebih tinggi dari tarif normal. Pada hari normal tarif kendaraan bus antarkota seharga Rp30 ribu, tetapi melonjak menjadi Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.
Kita menyayangkan bahkan amat menyayangkan telantarnya penumpang di Pelabuhan Bakauheni pada momen mudik liburan Iduladha kali ini. Seharusnya, seperti mudik Idulfitri, petugas juga menyiagakan angkutan dalam jumlah banyak, karena momen mudik Iduladha juga terjadi sekali dalam setahun.
Lonjakan penumpang di Pelabuhan Bakauheni tidak terdeteksi itu seharusnya tidak lagi menjadi alasan. Data mudik tahun sebelumnya dapat menjadi acuan sehingga jumlah penumpang dapat terprediksi berikut langkah antisipasi jika terjadi lonjakan. Kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi hambatan mudik ini tidak boleh berulang. Aparat pemerintah dan keamanan juga harus lebih matang melakukan persiapan dan pengawasan. n

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR