MENGGALA (Lampost.co)--Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan gigitan dari nyamuk Aedes Aegypti menyerang semua kalangan, dan tidak terkecuali bagi anak-anak. 

Bahkan, dari data Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Menggala dalam kurun waktu tiga pekan terakhir, pihaknya telah merawat 34 pasien terduga pengidap DBD. Dari jumlah itu 98% pasien merupakan anak-anak.



Penyakit DBD ini kerap muncul ketika menjelang peralihan musim, dari kemarau ke penghujan. Lingkungan yang kotor dan dipenuhi genangan air menjadi salah satu penyebab utama warga rentan terjangkit DBD dan salah satunya adalah anak-anak.

Salah satu pasien anak-anak terduga terjangkit DBD yang tengah mendapatkan perawatan di RSUD Menggala, terbaring lemas di sal ruang Cempaka khusus perawatan anak. Tali infus menempel di pergelangan tangan gadis mungil itu.

Dia tengah mendapat perawatan sejak tiga hari lalu, karena mengalami sejumlah gejala penyakit DBD. Marlina, orang tua dari Arora gadis berusia 10 tahun itu, mengatakan anaknya terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi, muntah-muntah, pusing, nyeri, dan sakit perut.

Dia menuturkan, sebelumnya trombosit putrinya sempat menurun. Saran dari tenaga medis agar putrinya banyak mendapatkan asupan cairan.

"Dirawat sudah dari hari Jumat sudah tiga harian. Alhamdulillah sekarang sudah agak mendingan. Sekarang anak saya sudah mau makan walaupun masih diinfus," kata Marlina warga Kampung Gunungsakti, Kecamatan Menggala, saat ditemui lampost.co, Senin (28/1/2019).

Selain Arora, nampak pasien lain yang masih berusia dini dan sedang mendapatkan perawatan di RSUD Menggala. Gejala penyakit yang dialami putri dari Cahyono Sugiarto tidak jauh berbeda dengan yang dialami Arora.

Ditangan gadis mungil berusia 11 tahun asal Kampung Astra Ksetra, Kecamatan Menggala itu, juga masih tampak menempel selang infus. Roro Nanda Laudia nama gadis kecil yang tengah duduk di bangku kelas 6 SD. 

Dia terpaksa harus mendapatkan perawatan di RSUD Menggala dan meninggalkan sejenak kegiatan belajar mengajar di sekolah. Meski, terlihat masih lemas, Roro menyempatkan berbincang dengan wartawan ini, menceritakan awal mula dirinya terserang DBD.

Roro terbata-bata menuturkan, penyakit DBD menyerang pada saat dirinya tengah berada di sekolah, Kamis (17/1/2019). Tiba-tiba tubuhnya merasa demam tinggi. "Pas di sekolah, panas dulu badannya. Terus waktu udah pulang baru pusing," ujar Roro.

Orang tua Roro, Cahyono, mengatakan putrinya dilarikan ke RSUD Menggala pada, Sabtu (26/1/2019) pagi. Sebelum putrinya terjangkit DBD, lanjut Cahyono, sempat ada tetangganya yang terlebih dahulu terjangkit penyakit yang sama.

"Ada orang sebelah sempat di rawat juga. Gejalanya sama kayak anak saya," katanya.

Seksi Hukum dan Kehumasan RSUD Menggala Yuli Fitria Ningrum mengatakan, sepanjang awal tahun 2019, pihaknya telah menangani 34 pasien terjangkit DBD dan 32 diantaranya anak-anak.

"Hingga 28 Januari, kita telah merawat 34 pasien positif DBD dari hasil diagnosa medis dan 32 diantaranya merupakan anak-anak. Alhamdulilah tidak ada korban meninggal dunia. Saat ini pasiennya juga sudah tinggal 6 orang lagi," kata Yuli.

Sementara dokter anak RSUD Menggala Dyah Mutia menjelaskan, awal mula penyakit DBD diawali dengan demam tinggi selama kurun waktu tiga hari. Kemudian diikuti batuk pilek, sakit kepala, sakit dibelakang bola mata, mual, dan muntah-muntah.

Namun, kata dia, warga yang terkena demam tinggi tidak serta-merta dapat dikatakan positif DBD, karena umumnya gejala demam tinggi dapat menyerupai berbagai jenis penyakit lain. Terduga terjangkit DBD hanya dapat dikatakan positif setelah melalui uji laboratorium darahnya. 

Dyah mengaku tidak ada cara khusus dalam penanganan pasien anak-anak dan dewasa yang terjangkit DBD. Begitupun dengan gejalanya.

"Setahu saya secara teoretis perjalanan penyembuhannya sama. Dia tidak perlu obat khusus yang penting cairannya tertangani, dia akan naik dengan sendirinya," kata Dyah.

Dyah mengimbau agar masyarakat dapat menggalakkan 3M plus untuk mencegah terjadinya penyebaran jentik nyamuk penyebab DBD.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR