BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi Lampung mencatatkan terdapat 86 kasus gizi yang terjadi di Bumi Ruwa Jurai ini selama tahun 2017 dan Lampung masih menjadi sebagai penyumbang terbesar masalah itu sebanyak 30 kasus. Namun, angka tersebut cenderung menurun dalam kurun waktu tahun 2013 hingga 2017.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan yang diberikan kepada Lampost.co, kasus gizi buruk tahun 2017 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 94 ditahun 2016, 136 ditahun 2015, 128 ditahun 2014, dan 134 kasus pada tahun 2013.



Sementara itu, Lampung Tengah menjadi daerah terbesar penyumbang penyakit gizi buruk sebanyak 30 kasus dan Lampung Utara dan Lampung Timur masing-masing sebanyak 14 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Reihana menjelaskan kasus gizi terjadi akibat pola asuh sebesar 20 persen dan 66,77 persen karena penyakit sertaan, dan terkadang ditimbulkan pula dari kondisi perekonomian. Besarnya penyakit penyerta  itu muncul dari Tuberkolosis, Bronco Pneumonia, kalainan jantung, dan diare.

"Sebagian besar penyakit itu sangat berhubungan dengan faktor lingkungan yang kurang baik, seperti kondisi rumah yang tidak sehat dan sarana sanitasi yang tidak laik," kata Reihanan didampingi Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Dinkes, Asih Hendrastuti.

Sementara itu, pola asuh menjadi penyumpang terbesar gizi buruk sebanyak 66, 77 persen. Hal itu terjadi dari pengetahuan ibu dalam pemberian makanan balita dan pengetahuan ibu tentang gizi pada anak, imunisasi dasar dan tumbuh kembang. Pengetahuan ibu yang kurang baik ini tercermin pada perilaku dalam pola asuh.

"Ibu yang tidak memberikan inisiasi menyusui dini sebesar 47 persen dan pemberian ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping yang terlalu dini. Sebab, pencernaan bayi yang belum siap menerima makanan selain ASI dan itu menyebabkan terjadinya gangguan pada pencernaan," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR