KALIANDA (Lampost.co) -- Dampak musim kemarau yang kian berkepanjangan mengakibatkan tanaman padi seluas 75 hektare di Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, mengalami puso. Selain itu, padi yang kini terancam puso mencapai 70 hektare.

Hal itu diungkapkan Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (P3) Kecamatan Sragi, Eka Saputra di ruang kerjanya, Rabu 11 September 2019. Dia mengaku musim kemarau tahun ini mengakibatkan lahan persawahan kekeringan.



"Ada tanaman padi seluas 75 hektare yang sudah dinyatakan rusak atau puso akibat kekeringan. Tanaman itu terdapat di areal Desa Sukapura seluas 25 hektare dan Desa Kualasekampung seluas 50 hektare," kata dia.

Selain puso, kata Eka, seluas 70 hektare tanaman padi yang tersebar di Kecamatan Sragi mengalami kekeringan. Bahkan, jika hujan tidak kunjung turun dalam satu pekan kedepan, maka tanaman seluas itu akan puso juga.

"Ya, bisa saja kalau hujan tak kunjung turun. Bisa dipastikan tanaman seluas 70 hektare akan puso juga. Ya, Mudah-mudahan beberapa hari kedepan hujan deras," kata dia.

Eka menjelaskan dari luas tanam padi pada musim gaduh saat ini 2.023 hektare, setidaknya tanaman seluas 1.191 hektare terancam kekeringan. Sebanyak 477 hektare dinyatakan kekeringan skala ringan dan 210 hektare kekeringan sedang.

"Untunk ancaman kekeringan itu berada di lahan areal Desa Baktirasa, Bandaragung, Kedaung, Margasari dan Sumberagung. Sedangkan, lahan yang sudah alami kekeringan skala ringan dan sedang tersebar di semua desa," kata dia.

Untuk mengantisipasi kerugian karena kekeringan pihaknya meminya petani agar segera mendaftarkan tanaman padi pada program asuransi usaha tani padi (AUTP). Dengan program itu tanaman padi mendapatkan jaminan asuransi dari PT Jasindo.

"Kalau alami gagal panen bisa di klaim melalui PT Jasindo. Tapi, untuk mendaftar tanaman padi sebelum usia 30 hari setelah tanam (HST). Ini hanya antisipasi alami kerugian yang besar," kata dia.

Disamping itu, Eka mengatakan petani diharapkan dapat memaksimalkan pompanisasi dari sumur bor untuk bertahan selama kemarau. Sebab, semua jaringan irigasi sudah alami kekeringan.

"Ya, kalau mau bertahan harus pompanisasi dari sumur bor. Kalau mengandalkan dari saluran irigasi sudah kering. Bahkan, ada pula saluran irigasi yang dimasuki pasang surut air laut, sehingga tidak bisa manfaatkan," kata dia.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR