BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Terduga Penganut paham radikal, Ad dikenal masyarakat setempat sebagai warga yang kerap bersosialisasi, tetapi tidak pernah bersedia dimintai pendataan dan mengikuti pemilihan umum.

Anak ketua RT 09/02, Asih, mengaku Ad di lingkungan masyarakat dikenal sebagai penunggu konter dan kerap bersosialisasi bersama masyarakat yang hendak membeli pulsa dan paket data dagangannya. Selebihnya, terduga penganut radikalisme itu tidak berubah turut serta dalam kegiatan masyarakat.



"Kalau sosialisasi sih Ad ini masih mau, tetapi dia memang tidak pernah mau kalau diminta pendataan sama RT gitu, pemilu dan ikut kegiatan-kegiatan sama masyarakat dia tidak pernah mau," kata Asih.

Dia melanjutkan, Ad tinggal bersama istrinya berinisial N dan seorang anaknya dalam tujuh tahun terakhir. Namun, Ad sendiri bukan merupakan asli warga setempat. Ad tinggal di wilayah itu setelah menikahi istrinya yang warga Way Huwi.

Sementara, Ketua RT 06/02 Way Huwi, Jatiagung, Lampung Selatan, Harjono mengatakan dirinya merasa terkejut dengan diciduknya Ad bersama polisi. Sebab, Ad dikenal sebagai sosok yang ramah dan sering beribadah bersama di masjid. 

"Sepengetahuan saya dia itu cuma tunggu konter dan biasa-biasa saja. Sosialisasi juga dan tidak ada tanda-tanda kalau dia orang jaringan. Kalau anggota jaringan kan biasanya suka hilang-hilangan. Tapi kalau Ada sepertinya tidak, makanya saya juga kaget," ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR