YOGYAKARTA (Lampost.co)--Memasuki musim kemarau, sebanyak 69 desa di tiga kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kekeringan di musim kemarau 2018. Desa yang mengalami kekeringan itu berada di Kabupaten Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo. 
Manajer Pusat Pengendalian Operasional BPBD DIY, Danang Samsurizal mengatakan daerah paling terdampak kekeringan ada di Gunungkidul. Ada sebanyak 54 desa mengalami kekurangan air bersih. 54 desa itu ada di 11 kecamatan. 
"Kecamatan itu yakni Gedangsari, Girisubo, Ngawen, Nglipar, Paliyan, Panggang, Ponjong, Purwosari, Rongkop, Tanjungsari, dan Tepus," kata Danang di Yogyakarta pada Senin, 16 Juli 2018. 
Setidaknya, ada sebanyak 31.607 kepala keluarga di 54 desa di Gunungkidul yang terdampak kekeringan. Jika dihitung dalam hitungan personal, ada sebanyak 116.216 jiwa. 
Di Bantul, dampak kekeringan paling dirasakan warga di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, dan Desa Muntilan, Kecamatan Dlingo. Sedangkan di Kulon Progo, ada 13 desa di enam kecamatan terdampak kekeringan. Enam kecamatan itu yakni Girimulyo, Kalibawang, Samigaluh, Sentolo, Kokap, dan Nanggulan. 
Danang menyatakan, upaya pengiriman bantuan air terus dilakukan di desa-desa terdampak kekeringan. Bantuan pengiriman air dilakukan pemerintah setempat, baik BPBD hingga pemerintah kecamatan. 
Sementara itu, BMKG DIY memperkirakan musim kemarau berlangsung hingga bulan September 2018. Namun, kondisi kekeringan daerah terdampak tidak sama. 
Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Djoko Budiyono, mengatakan, sejumlah titik terdampak kemarau potensial tidak terjadi hujan dalam waktu lebih dari satu bulan. Bahkan di sejumlah wilayah bisa tidak hujan sama sekali dalam waktu dua bulan. 
"Daerah yang bisa tidak hujan dalam 69 hari seperti di Dlingo, Pajangan, Jetis, Pandak, Srandakan, dan Bantul. Lalu Gunungkidul dan Kulon Progo juga ada," ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR