KOTABUMI (Lampost.co)--Dari total sekitar 16.800 ekor sapi betina di Kabupaten Lampung Utara,  sekitar 600 ekor sapi betina diduga alami gangguan organ reproduksi atau sulit mengalami kebuntingan.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Peternakan, Dinas Pertanian Lampung Utara, Aris Siswoyo, di ruang kerjanya, Jumat (8/12), mengatakan ada sekitar 600 ekor sapi betina atau sekitar 9,6 persen dari total jumlah populasi sapi betina di Lampura mengalami gangguan organ reproduksi atau sulit mengalami kebuntingan. 
Hal itu, ditandai saat tiga kali atau lebih pelaksanaan inseminasi buatan (IB) pada sapi oleh petugas inseminator, sapi tersebut belum terlihat mengalami  tanda-tanda kebuntingan. "Rata-rata sapi betina normal atau yang tidak mangalami masalah gangguan reproduksi, saat terlihat tanda birahi dan langsung dilakukan IB  sekali sampai 2 kali oleh petugas, sekitar 3 bulan s/d 6 bulan ke depan sudah dapat di lihat tanda-tanda mengalami kebuntingan," ujarnya. 



Menyoal penyebab gangguan reproduksi pada sapi itu, dia menjawab, karena kurang gizi, telat menyapih, pengawasan birahi yang tidak tepat dan gangguan pada rahim yang berakibat,  buahi tenang atau sudah masanya berproduksi tapi belum terlihat tanda birahi, hipo fungsi ovarium, corplus luterum presisten (CLP) dan endomertivis ( peradangan uterus). 
"Karena kurang gizi dan minimnya pemahaman tata cara budidaya ternak sapi yang benar dapat berakibat pada gangguan alat reproduksi hewan ternak yang diusahakan" kata Aris. 
Menyoal target penanganan bagi sapi yang mengalami gangguan reproduksi,  pada program percepatan swasembada daging yang merupakan program Kementerian Pertanian (Kementan) dengan didanai APBN tahun anggaran (TA) 2017 dan menjadi Tugas Perbantuan (TP) Dinas Perkebunan dan Peternakan Propinsi Lampung yang masuk dalam kegiatan upaya khusus sapi induk wajib bunting (Upsus Siwab). Aris menjawab, dari target Dinas Perkebunan dan Peternakan yang ditetapkan sebanyak 385 ekor sapi di Lampura, telah tertangani Distan setempat, sampai akhir November 2017 sebanyak 362 ekor.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR