Tunis (Lampost.co) -- Demonstrasi melanda Tunisia. Kelompok oposisi mengklaim demonstrasi ini dilakukan untuk menentang rencana penghematan pemerintah yang dinilai tidak adil.

Demonstrasi ini terjadi lagi sejak gelombang demo Arab Spring di Timur Tengah pada 2011. Sampai saat ini, dilaporkan satu orang telah tewas dan belasan orang terluka.

Dikutip dari AFP, Kamis 11 Januari 2018, protes masih berlangsung di beberapa kota di Tunisia. Protes pecah setelah pemerintah mengesahkan kenaikan pajak dalam rancangan kebijakan keuangan 2018.

Menurut laporan, demonstrasi terjadi di beberapa kota di Tunisia, yakni Siliana, Kasserine, Djebel Lahmer, Zahrouni, Gafsa, Sidi Bouzid dan juga kawasan Yahudi di Djerba. 

Tidak ada angka pasti yang menunjukkan jumlah para pengunjuk rasa di Tunisia ini. 

Juru Kementerian Dalam Negeri Tunisia Khalifa Chibani mengatakan, bahwa 49 polisi terluka pada malam kedua bentrokan di seantero Tunisia.

"Banyak bangunan rusak dan toko-toko dijarah. Sampai saat ini, kami dan Kementerian Pertahanan sudah mengerahkan tentara di sekitar bank, kantor pos dan gedung pemerintahan," kata Chibani. 

Perdana Menteri Tunisia Youssef Chahed mengutuk tindakan yang ia sebut vandalisme ini. Bahkan, ia menilai demonstrasi ini melayani kepentingan pihak-pihak yang berkorupsi untuk melemahkan hukum negara. Secara tidak langsung, ia menunjuk kepada partai oposisi.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR