SUKADANA (Lampost.co) --  Antisipasi konflik antara gajah dengan manusia, Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK),  melalui Pusat Latigan Gajah (PLG) menempatkan 27 ekor gajah andalan di empat lokasi elephant respon unit (ERU).

Humas Balai TNWK, Sukatmoko, mewakili Kepala Balai, Subakir, Sabtu (17/8/2019) menjelaskan, sebagian dari areal TNWK berbatasan langsung dengan desa-desa penyangga.



Pada perbatasan tersebut areal TNWK berhadapan langsung dengan lahan-lahan perkebunan milik warga.

Kondisi seperti itu kata Sukatmoko, memang merupakan hal yang rawan dengan kemungkinan munculnya konflik antara satwa khususnya gajah dari dalam kawasan TNWK yang keluar dan masuk ke lahan-lahan kebun warga. “Kondisi seperti itu memang cukup rawan dan memang sudah sering terjadi,” kata Sukatmoko.

Karena itu lanjut dia, pihak Balai TNWK menetapkan empat lokasi sebagai ERU yaitu ERU Tegal Yoso, Bungur, Braja Harjosari dan Margahayu.

Empat lokasi ERU itu ditetapkan karena dari empat lokasi wilayah ERU tersebutlah yang selama ini memang kerap dan rawan sekali dengan kemungkinan munculnya konflik antar gajah dan manusia.

Di empat lokasi itulah kata Sukatmoko, kemudian pihak Balai TNWK melalui PLG, menempatkan 27 ekor gajah andalan.

Gajah andalan tersebut maksudnya adalah, gajah-gajah yang ditempatkan di empat lokasi itu merupakan gajah-gajah dengan postur tubuh besar-besar, rata-rata usianya sudah senior diatas 30-40, disegani oleh gajah-gajah lainnya.

Adapun nama beberapa ekor gajah andalan yang ditempatkan di empat lokasi ERU itu diantaranya, Karnangun, Karnangin, Daeng, Toni, Renggo, dan lain-lain.

Ke 27 ekor gajah andalan yang ditempatkan tersebar di empat lokasi itu ditugaskan melakukan patroli rutin di masing-masing wilayah ERU, kemudian menjaga gajah-gajah yang ada di dalam areal TNWK agar tidak keluar.

Selanjutnya  melakukan penghalauan jika ada gajah liar dari dalam areal TNWK mencoba keluar untuk masuk ke lahan perkebunan warga.

“Jadi 27 ekor gajah  tersebutlah yang diandalkan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya konflik antara gajah dan manusia, dan selama ini memang cukup efektif,” kata Sukatmoko.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR