BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Sebanyak 19 orang tenaga dokter hewan dari seluruh penjuru Indonesia kini memiliki kemampuan seperti detektif, yakni menyelidiki perkembangan penyakit hewan dan melakukan investigasi wabah serta melakukan penanganan yang diperlukan. Kemampuan ini diperoleh setelah bimbingan teknis Program Epidemiologi Lapangan Veteriner Indonesia (PELVI) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO). 

Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian dal keterangan tertulis Rabu (26/6/2019) menuturkan bimbingan berkala yang dimulai sejak April 2018 ini didukung oleh USAID, Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dan Alert Asia Foundation. 



“Para ‘detektif’ penyakit hewan ini menyediakan data ilmiah yang sangat dibutuhkan pemerintah dalam membuat kebijakan kesehatan hewan yang efektif. Bahaya penyakit hewan dapat mengganggu produksi pangan di peternakan, serta menular kepada manusia,” ujarnya dalam acara kelulusan dan pelepasan 19 tenaga epidemiologi lapangan veteriner di Yogyakarta.

Dua detektif yang bertugas di Balai Besar Veteriner Wates, Endang Ruhiat dan Dwi Hari Susanto menceritakan keterlibatannya menyelidiki kasus penyakit anthrax yang kembali ditemukan di Yogyakarta, Mei 2019 lalu. “Sebelumnya, kami lebih fokus pada pengambilan dan pengujian sampel untuk peneguhan diagnosa saja, misalkan sampel tanah saat penyelidikan anthrax. Kini setelah dibimbing PELVI, kami lebih dapat mengetahui gambaran besarnya sampai detil, dan spesifik kondisi lapangan tempat kejadian serta dapat menerapkan analisis ilmiah dalam setiap langkah penyelidikan, sejak persiapan hingga pembuatan rekomendasi,” ujarnya. 

Pada kesempatan yang sama, Juliette Morgan, Direktur CDC Amerika Serikat di Indonesia menjelaskan, “3 dari 4 penyakit infeksi baru ditularkan dari hewan kepada manusia atau bersifat zoonosis. Menurutnya detektif penyakit hewan dengan kemampuan epidemiologinya menjadi garda terdepan dalam pencegahan penularan penyakit yang dapat menjadi ancaman kesehatan global.

Dr. James McGrane, Team Leader Unit Khusus FAO di Bidang Kesehatan Hewan (FAO ECTAD) menjelaskan pentingnya penguatan penyelidikan penyakit zoonosis bagi Indonesia yang berada di lokasi strategis jalur mobilitas manusia dan hewan. “Kementan dan FAO ECTAD telah bekerja sama selama 13 tahun terakhir agar peternak dan masyarakat umum dapat terhindar dari bahaya penyakit hewan. "Selanjutnya, kami berharap dapat menyiapkan ‘detektif' penyakit hewan untuk memperkuat Dinas terkait pada tingkat Provinsi dan kabupaten/kota.”

Setelah melalui pelatihan berkala yang terbagi dalam empat modul sejak April 2018 lalu, 16 dari 19 epidemiolog ini akan kembali bertugas di 8 Balai Besar/Balai Veteriner di bawah Ditjen PKH yang ruang lingkup kerjanya mencakup seluruh Indonesia. Sementara, 2 orang masing-masing bekerja di Balai Pengendalian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan dan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara, serta 1 orang lainnya bertugas di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di bawah Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Saat ini, mereka juga telah diminta untuk berbagi pengetahuan dengan rekan-rekan di unit kerja masing-masing untuk membangun kesiapsiagaan terhadap bahaya penyakit hewan.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR