MILIARDER si Raja Microsoft, Bill Gates, mengatakan, “Bukan salahmu jika terlahir miskin, tetapi mati dalam keadaan miskin itu sudah pasti kesalahanmu.” Kata-kata bijak ini memotivasi seseorang untuk mengubah nasibnya.
Jika engkau dilahirkan dalam kondisi orang tua yang tidak mampu secara ekonomi, berusahalah untuk menjadi lebih baik karena kita tidak bisa memilih dari orang tua mana kita dilahirkan. Namun, menurut Bill Gates, ternyata kerja keras saja tidak cukup. Diperlukan juga kepandaian, relasi, keuletan, visi ke depan, serta berada di zaman dan situasi yang tepat.
Melihat kondisi petani saat ini, meski harga beras di pasaran melejit, bahkan harga beras kualitas medium bisa mengejar harga beras premium dan melampaui harga eceran tertinggi pemerintah, nyatanya kondisi itu tidak dinikmati petani.
Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung merilis nilai tukar petani (NTP) periode Januari 2018 mengalami penurunan dibandingkan periode Desember 2017, yakni dari 107,3% di Desember menjadi 105,98% pada Januari. Angka ini menunjukkan kenaikan harga beras tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli petani. Artinya, tingginya harga beras yang membuat para masyarakat menjerit tidak memberi pengaruh pada kesejahteraan petani.
Jika melihat apa yang telah dilakukan petani, bukanlah mereka tidak berusaha keras. Proses beberapa bulan untuk mendapatkan hasil panen yang baik tidak mampu mengubah nasib mereka. Bahkan, tak jarang mereka pun kesulitan untuk membeli beras manakala musim panen belum tiba.
Ibarat tikus mati di lumbung padi, para petani padi itu pun tak mampu mengatasi kesulitan ekonominya meski harga beras tinggi. Regulasi pemerintah belum mampu membantu para petani di negeri subur ini meningkatkan kesejahteraannya.
Tingginya berbagai harga kebutuhan sehari-hari membuat para petani terpaksa menjual hasil sawah ladangnya dengan sistem ijon. Kejadian itu terus berulang, sehingga para petani negara ini terus menerus tak bisa menikmati hasil kerja kerasnya.
Apa yang salah di negeri ini? Apakah pemerintah kurang peduli? Ataukah terlalu banyak orang-orang yang mencari keuntungan pribadi tanpa memikirkan nasib orang lain? Seperti kelakuan para tengkulak yang mempermainkan harga beras. Ataukah cukong-cukong dengan backing para pejabat? Atau justru para penjahat berhati licik yang memakai topeng wakil rakyat?
Apakah petani kita hidup di zaman dan situasi yang tidak tepat? Dari dulu, nasib petani di Nusantara ini seakan tak beranjak dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
Suatu usaha akan berhasil lebih baik jika semua bisa bekerja sama, bukan sekadar memikirkan keuntungan diri sendiri. Sekeras apa pun usaha petani, jika ada segelintir orang yang hanya memikirkan keuntungan pribadi, akan sulit bagi petani memperbaiki nasibnya.


 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR