LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 12 February
4552
Kategori Refleksi
LAMPUNG POST | Wabah Berita Bohong
ilustrasi hoax. Dok. Lampost.co

Wabah Berita Bohong

ANAK bangsa di negeri ini sudah sulit membedakan dan memisahkan mana berita yang benar, mana pula berita bohong (hoax). Ada banyak situs hoax sengaja dibuat—mengatasnamakan, mengaku sebagai situs berita resmi. Rakyat menganggap hoax itu suatu kebenaran, kemudian dikutip dan disebarluaskan melalui berbagai media sosial.

Isi hoax lebih banyak menebar berita fitnah, kebencian, prasangka buruk, suku, agama, ras antargolongan, dan mengajak ketidakpercayaan kepada badan publik, bahkan mengancam persatuan bangsa. Kecenderungan itu tak hanya di Indonesia, juga terjadi di Amerika, Eropa, dan Asia. Media sosial pun menjadi tempat empuk untuk menyebarkan berita bohong tersebut.

Ladang tempat bersemainya hoax di media sosial. Tanpa ragu hoax menyampaikan sikap ketidaknetralan, politik adu domba, menebar kebencian, dan permusuhan. Tuhan mengingatkan manusia pada 15 abad lalu: ”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (Q.S. Al-Isra’: 36).

Ada banyak orang, kelompok manusia menjadi korban hoax di dunia maya. Parahnya, informasi yang disebarkan itu dianggap benar oleh masyarakat. Pers yang beradab harus menyetop kebohongan dan tidak membiarkan kebodohan terus berlanjut. Karena, publik sangat-sangat dirugikan atas berita yang tidak benar. Mengerikan! Informasi hoax sudah mewabah.

Tuhan pun mengingatkannya. “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasik dengan membawa suatu informasi, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kamu menyesali perbuatan yang telah dilakukan.” (Q.S. Al-Hujurat: 6).

Informasi hoax membuat kita emosi, marah, rasis, benci menyudutkan orang, memfitnah. Berita bohong itu menyita perhatian dunia. Belakangan hoax telah memantik gejolak sosial yang berujung pada aksi kekerasan. Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Deddy Mulyana, berpendapat karakter asli rakyat Indonesia cepat tersulut karena tidak terbiasa berbeda pendapat sehingga dengan mudah menelan berita palsu.

Memang anak bangsa latah—tidak terbiasa mencatat dan menyimpan data, sehingga ketika berbicara suatu persoalan terkadang tanpa data dan fakta. “Bangsa ini tidak hobi membaca buku, lalu tiba-tiba dicekoki dengan banjir informasi di ranah digital. Informasi yang diterima itu lalu dibagikan lagi tanpa melakukan verifikasi,” kata Deddy. ***

Rendahnya kecerdasan literasi menjadi faktor penyebab hoax mudah dikonsumsi. Itu mengapa anak bangsa akan mudah menjadi penikmat berita kekerasan, sensualitas, drama, intrik, dan misteri. Dengan media sosial yang gratis itu, berita hoax tumbuh subur, berbuah, beranak pinak, apalagi musim pemilihan kepala daerah. Sangat vulgar, tanpa beban, hoax menyebar fitnah dan rasa dendam.

Luciana Budiman, country general manager Isentia, memantau isu-isu hoax selama tiga bulan terakhir. Dia menganalisis ada tiga isu besar di media sosial selama kurun waktu dua bulan terakhir (31 Desember—24 Januari 2017). Seperti eksodus 10 juta pekerja Tiongkok, wafatnya mantan Presiden BJ Habibie, dan miringnya Jembatan Cisomang Tol Cipularang.

Dua isu terakhir itu terdapat kurang dari 100 percakapan di media sosial, sedangkan isu pekerja negara asing terdapat dalam 1.224 pembicaraan. Menurut Luciana, hal itu menunjukkan orang Indonesia mulai terbiasa memilih dan memilah mana fakta yang perlu disebarluaskan dan mana berita yang belum valid.

Untuk isu pekerja Tiongkok tidak saja di media sosial yang membicarakannya, juga di media tradisional. Terdapat 118 artikel di berbagai media cetak dan 54 persen di media online. Mengutip Luciana, surat kabar menempati posisi kedua dengan jumlah 43 persen, sedangkan televisi dan majalah hanya 3 persen.

Sementara di media sosial seperti Twitter saja 86,74 persen, lalu diikuti Facebook sebesar 10,85 persen. Sisanya di forum online dan blog. Dari isu itu, media konvensional memilih bersikap netral dalam memberitakan karena belum diketahui validitasnya.

Sedang di media sosial, sebagian netizen mengambil sentimen baik positif maupun negatif. Sikap netral merupakan keunggulan media konvensional karena masih mampu memberikan edukasi kepada rakyat untuk tidak ikut membantu menyebarkan berita-berita hoax. Proses untuk mencerdaskan anak bangsa ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari lalu di Maluku, Presiden Jokowi mengajak media konvensional atau mainstream melawan berita bohong atau hoax di media sosial. Memerangi berita hoax itu dengan cara-cara verifikasi dan kompetensi. Sangat tidak elok pula, jika media tidak terverifikasi oleh Dewan Pers—marah-marah dan mencaci maki negara ini—seakan pers akan dibelenggu lagi.

Niatnya bisa bertahan hidup di era digital. Ketika pers menjunjung tinggi etika, membawa kebenaran, menjaga perdamaian, dan tidak menyesatkan pembaca, maka ia abadi dalam perubahan. Media ini juga mengedepankan disiplin, objektivitas, dan integritas. Bukan media pemungut berita dari media sosial yang belum jelas kebenarannya. ***

BAGIKAN


LAMPUNG POST | Manuver Rizieq Shihab Sia-sia?

Manuver Rizieq Shihab Sia-sia?

26 May 2017 16:00:00

LAMPUNG POST | Kecanduan Medsos dan Anak

Kecanduan Medsos dan Anak

27 May 2017 00:30:00

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv