LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 18 May
9331
Kategori Teknologi
Penulis Hesma Eryani
LAMPUNG POST | Unilever Perkenalkan Teknologi Daur Ulang Sampah Pertama di Dunia
IIlyas Asaad, Staf Ahli Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyimak penjelasan model pabrik daur ulang sampah berteknologi CreaSolv® Process yang mampu mendaur ulang plastik fleksibel atau kemasan sachet milik Unilever. Dok. Unilever

Unilever Perkenalkan Teknologi Daur Ulang Sampah Pertama di Dunia

JAKARTA -- Unilever mengumumkan terobosan terbarunya dalam hal teknologi daur ulang sampah pertama di dunia yang dinamakan CreaSolv® Process di Jakarta, Rabu (17/5/2017). David Blanchard, Chief R & D Officer Unilever, menjelaskan CreaSolv® Process merupakan sebuah teknologi yang mampu mendaur ulang plastik fleksibel atau kemasan sachet. CreaSolv® Process dikembangkan bekerja sama dengan Fraunhofer Institute di Jerman dan terinspirasi inovasi yang digunakan untuk mendaur ulang perangkat televisi.
Miliaran kemasan sachet sekali pakai diproduksi setiap tahun, terutama di negara berkembang, dimana daya beli masyarakat pada umumnya belum dapat menjangkau produk kemasan besar. Tanpa solusi daur ulang, kemasan sachet berakhir di tempat pembuangan akhir atau sebagai sampah yang mengotori lingkungan, termasuk di lautan. Selaras dengan strateginya untuk mengembangkan bisnis seraya mengurangi jejak lingkungan dan meningkatkan dampak positif terhadap masyakat–yang tertuang dalam Unilever Sustainable Living Plan (USLP) - Unilever telah lama berkomitmen untuk menemukan alternatif untuk menanggulangi sampah kemasan plastik, termasuk kemasan sachet.
Secara global, kata Blanchard, sebayak 50-120 miliar dolar AS hilang karena gagal mendaur ulang plastik. Dengan menemukan solusi yang tepat, ada peluang besar untuk menghemat pengeluaran yang berrati nilai lebih bagi bisnis. Unilever secara global telah berkomitmen untuk mengurangi berat kemasan produknya hingga sepertiganya pada tahun 2020; dan meningkatkan penggunaan konten plastik daur ulang di kemasannya minimal 25 % di 2025. “Kami juga menargetkan seluruh kemasan plastik kami akan dapat didaur ulang, digunakan kembali atau diurai di 2025," katanya.
Pengembangan CreaSolv® Process  merupakan langkah nyata untuk mencapai target tersebut. Kami ingin teknologi terobosan baru ini nantinya dapat dikembangkan skalanya, sehingga membawa manfaat bagi banyak pihak, termasuk perusahaan yang bergerak di industri yang sama dengan pihaknya.

Para pembicara pada konferensi media terkait CreaSolv® Process, sebuah teknologi daur ulang sampah pertama di dunia milik Unilever berfoto bersama usai acara. Dok. Unilever
Sancoyo Antarikso, Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia menyatakan CreaSolv® Process merupakan  sebuah tonggak penting bagi Unilever, terutama berkaitan dengan komitmen mereka untuk mengurangi dampak lingkungan. Teknologi ini berpotensi menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah plastik fleksibel atau sampah kemasan sachet.
Untuk mengatasi masalah sampah, selain teknologi yang tepat diperlukan pula skema pengumpulan sampah kemasan sachet agar dapat disalurkan untuk didaur ulang. Untuk itu, Unilever akan memberdayakan ribuaan pemulung dan masyarakat, juga kerjasama dengan  bank sampah, pemerintah serta pengecer lokal. Mekanisme ini akan diintegrasikan dalam sebuah model yang dapat meningkatkan pendapatan industri daur ulang dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
“CreaSolv® Process memungkinkan sachet fleksibel untuk didaur ulang. Lebih dari 60% kemasan fleksibel terbuat dari polietilena sehingga pihaknya fokus mendaung ulang. Hasilnya adalah biji polietilena film lapisan plastik yang sepenuhnya digunakan kembali. Residu film dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan sehingga akan tercipta pendekatan ekonomi yang sirkular yakni  limbah plastik akan menjadi bahan baku plastik lagi, alih-alih akan berakhir di tempat pembuangan atau di lingkungan.
Dengan pendekatan ini, jejak lingkungan dapat ditekan akan tercipta nilai ekonomi yag berpotensi menghasilkan peluang tambahan bagi masyarakat. Anton Harjanto, Head of Circular Economy, Manufacturing Sustainability and Renewable Energy SEAA Project Unilever menjelaskan saat ini pihaknya  telah membuka pabrik percontohan CreaSolv® Process di  Jawa Timur. ''Kami akan melakukan percobaan untuk menguji efektivitas teknologi ini agar dapat dioperasikan untuk skala komersial untuk jangka panjang. Pada tahap awal atau uji coba, teknologi ini bisa berpotensi menyerap 3 ton ton sampah kemasan plastik fleksibel bersih per hari. Sementara pada skala komersial, teknologi berpotensi  mengurangi dampak CO2 sebesar 7.800 ton per tahun untuk setiap unit operasi, setara dengan 8.200 ton plastik feksibel karena produksi polimer yang dipulihkan akan menyebabkan berkurangnya penggunaan polimer baru.
Salah satu tantangan terbesar Unilever dalam hal daur ulang ada pada sulitnya mengumpulkan sampah kemasan sachet. Saat ini kebiasaan masyarakat memilah sampah masih belum terbentuk. Untuk itu sinergi antara semua elemen masyarakat untuk membantu Unilever dalam hal pengumpulan sampah menjadi sangat penting.
IIlyas Asaad, Staf Ahli Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menyatakan komitmen Unilever dalam lingkungan sangat sejalan dengan ambisi pihaknya untuk menciptakan Indonesia bebas sampah pada tahun 2020.  "Untuk itu, kami senang sekali bisa berkolaborasi dengan Unilever dalam menyukseskan CreaSolv®Process, '' katanya. Dia mengimbau semua elemen masyarakat untuk bersinergi dalam menyukseskan tujuan ini.
Selama bertahun-tahun, Unilever telah secara konsisten melakukan berbagai macam inisiatif program lingkungan di Indonesia, seperti mengaktifkan program Green and Clean pada tahun 2001, membuat program TRASHION sejak tahun 2006 dan hingga tahun 2017 Unilever telah mengembangkan 1.400 bank sampah di 12 provinsi, di 17 kota. Bank sampah ini telah mengumpulkan hingga 1.800 ton limbah anorganik, menghasilkan omzet Rp1,1 miliar rupiah dari penjualan limbah ini ke industri daur ulang.
“Kami berharap semua elemen masyarakat dapat mendukung inisiatif yang kami lakukan, sehingga kita akan bersama-sama bisa menciptakan Indonesia yang hijau, Indonesia yang bebas sampah di masa mendatang,” tutup Sancoyo.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv