LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 26 March
11405
Kategori Tumbai

Tags

LAMPUNG POST | Spirit Keilmuan Masyarakat Lampung
Ilustrasi. www.panjimas.com

Spirit Keilmuan Masyarakat Lampung

KEJAYAAN dan khazanah keilmuan dalam tradisi-tradisi masyarakat Lampung perlu dikaji secara ilmiah, yang dijadikan kebutuhan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan formatif sejarah peradaban dan kebudayaan manusia yang terjadi makin sophisticated dan dinamis. Termasuk juga mempelajari tradisi masyarakat yang sebenarnya terjadi dalam tranformasi perubahan kesadaran keberagamaan dan kehidupan masyarakat Lampung.
Disadari atau tidak oleh para akademisi, peneliti, dan agamawan, terutama yang berada di Lampung, secara individual maupun kolektif diperlukan pencarian pendekatan dan model spiritualitas. Di tengah perubahan global yang makin menjauh dari nilai-nilai etis dan moral berbasis iman, akhlak, dan amal saleh, sehingga dapat diekspresikan dengan cara-cara serta gerakan yang berbeda untuk mengubah dan menciptakan tatanan sosial yang damai berdasar ukhuwah, persaudaraan, kebersamaan, dan keadilan.
Tanpa pemahaman dan wawasan luas akan pentingnya tranformasi dunia dan dinamika sosial secara keseluruhan (wholeness), sulit mengubah pikiran dan perilaku manusia guna menemukan kebenaran berdasar ajaran-ajaran yang original juga universal. Padahal, beragam pendekatan itu semua merupakan landasan pengembangan khazanah keilmuan yang sangat berguna untuk pembangunan daerah Lampung.

Dasar Keyakinan
Sudah menjadi pengetahuan masyarakat, keberadaan hakikat manusia dapat dipahami dari adanya konkretisasi dan aktualisasi sikap keimanan, karena ibadah mengandung makna intrinsik sebagai pendekatan kepada Tuhan (taqarrub ila Allah). Islam mengajarkan dalam Alquran: Manusia adalah umat yang satu (Al-Baqarah: 213); dan pada ayat lain dinyatakan: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (dengan memberikan seruan): Sembahlah Tuhan dan hindari kejahatan (An-Nahl: 36).
Dalam ibadah seseorang hamba merasakan kehampiran spiritual kepada Khaliknya, yang dapat disebut sebagai inti rasa keberagamaan. Di samping makna intrinsik, ibadah juga mengandung makna instrumental karena dapat dilihat sebagai usaha pendidikan pribadi dan kelompok ke arah komitmen atau perwujudan perilaku keberagamaan. Banyak kalangan pemuka agama yang mengerti tentang hal itu, meski secara empiris dalam pengamalannya masih ada yang belum benar secara syariat. Memang masih ada kepercayaan yang bersifat sinkritisme dalam sistem keyakinan yang merupakan fenomena dalam tradisi masyarakat di daerah perdesaan.
Kejayaan masyarakat dapat diukur dari adanya sikap percaya bahwa manusia cerdas adalah manusia yang berbudi, mengetahui yang benar dan melakukannya. Kejahatan adalah perilaku yang merugikan sebagai akibat kebodohan. Di sini tecermin suatu pengertian, akal adalah suatu keagungan atau bagian tertinggi dari jiwa. Artinya, tujuan usaha manusia dan makna kejayaan adalah perkembangan yang harmonis dari fungsi dan kemampuan manusia, melalui supremasi dan kemampuan mengoptimalisasikan akal-budi dan olah pikir berbasis iman, akhlak, dan amal saleh.
Kedua, pandangan ilmiah mengenai hakikat manusia sangat bervariasi bergantung pada sudut pandang ilmu dan pengetahuan yang melandasinya. Sebab, hakikat manusia dapat dibedakan: (1) Pemahaman manusia dari segi biologi, yaitu pemahaman yang merupakan hasil dari ilmu alam. Di sini ilmu-ilmu fisis menganggap manusia bagian dari keteraturan alam fisikal. Oleh karena itu, dia harus dipahami dari segi hukum-hukum fisis dan kimiawi. (2) Pemahaman manusia dari segi tingkah laku yang dicetuskan oleh ahli sosiologi. Dari sudut pandang ini, manusia dibedakan dari makhluk lainnya atas dasar kemampuannya dalam membangun jalinan sosial yang harmonis.
Eksistensi manusia didasarkan kualitas hubungan antara manusia dengan Allah swt dan hubungan antarwarga masyarakat. Oleh karena itu, manusia harus mendapatkan kebebasan dalam masyarakat karena untuk menjadi warga negara berarti berkehendak dan melakukan apa yang baik bagi masyarakat dan dia sendiri.
Berikutnya, pandangan teologis melihat hakikat manusia dari segi keunikan pikiran atau hubungannya dengan alam, tetapi lebih terfokus pada hubungan transendental antara manusia dan penciptanya (Allah). Berarti, tindak tanduk perbuatan manusia tidak terlepas dari kehendak Allah.
Manusia dituntut berikhtiar sesuai dengan kemampuannya dan mengikatkan kualitas diri agar tunduk pada hukum juga aturan-aturan Allah; dan manusia pun harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Tegasnya, adanya keharmonisan antara akal dan hati, antara kekuasaan Allah dan kebebasan manusia, serta antara kebebasan dan tanggung jawab manusia, secara keseluruhan menunjukkan keseimbangan juga keserasian antara aspek jasmaniah dan aspek rohaniah.
Kejayaan dan kekayaan khazanah keilmuan dalam tradisi masyarakat merupakan fakta yang menumbuhkan tatanan dalam keluarga dan masyarakat untuk berbuat baik dan aktif guna membentuk kepribadian sesuai fitrahnya. Mengenai tatanan kehidupan manusia, sebagaimana dinyatakan Mulder. Bahwa, tatanan yang hidup dari keluarga inti dapat dianggap sebagai merupakan suatu mikrokosmos kehidupan dan bahwa orang-orang dewasa berkewajiban untuk berusaha meneruskan kehidupan.
Sebab, pada akhirnya, apa sesungguhnya kehidupan itu? Dengan kecenderungan khas untuk menggolongkan hukum-hukum kehidupan ke dalam perkataan-perkataan berirama yang sederhana, urut-urutan kehidupan adalah lahir, kawin, dan mati (metu, manten, dan mati), begitulah kehidupan, begitulan tatanan manusia.n
LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv