LAMPUNG POST | lampost.co logo
LAMPUNG POST | Pendidikan Interreligius: Upaya Merajut Harmoni Kehidupan Beragama
Ilustrasi. edupost.id

Pendidikan Interreligius: Upaya Merajut Harmoni Kehidupan Beragama

There can be no peace among the nations without dialogue among religions…” (Hans Kung).

HIDUP di sebuah kampung global yang tak mengenal tapal batas seperti saat ini membuat segala bentuk perbedaan hampir mustahil untuk dihindari. Kemajemukan masyarakat, dengan segala keunikannya, merupakan suatu anugerah yang terberikan (given) sekaligus juga turut menegaskan nyaris tidak ada lagi ruang kehidupan masyarakat yang monokultural. Namun, bila tidak dikelola secara bijak, kebinekaan itu malah justru akan meruahkan malapetaka kemanusiaan, apalagi jika isu-isu agama disusupkan sebagai sumbu pemantiknya. 
Sebagai bangsa yang religius, agama jelas tidak bisa disapih dari kehidupan masyarakat Indonesia. Agama bukan hanya sekadar medium ritual atas pengakuan adanya Tuhan, melainkan juga telah menjelma sebagai pandangan hidup (weltanschauung). Sayangnya, spirit keberagamaan itu nyatanya juga kerap memicu api perseteruan. Ketegangan sosial berbalut agama, pelarangan, dan penghancuran rumah ibadah, tuduhan sesat, hingga perlakuan diskriminatif kepercayaan minoritas, misalnya, adalah bukti bahwa isu-isu agama memang manjur untuk memobilisasi pertikaian. 

Merayakan Perbedaan

Di tengah arus globalisasi yang mengalir begitu deras, kehidupan umat beragama di Indonesia juga ditantang menghadapi perubahan dinamika zaman yang tentu tidak mudah dikelola. Sentimen-sentimen keagamaan yang kerap muncul akhir-akhir ini setidaknya menyiratkan kompleksitas hubungan umat beragama itu belum terkelola secara baik. Peran pendidikan agama yang diyakini mampu menumbuhkan semangat solidaritas dan merekatkan jalinan persaudaraan pun ditengarai masih belum berjalan optimal. Alih-alih, justru banyak dijumpai buku-buku teks panduan belajar Pendidikan Agama siswa yang malah mengobarkan semangat kebencian.
Kendati memang faktor ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik kerap disebut-sebut sebagai biang kerok dari maraknya praktik kekerasan bertopeng agama dewasa ini. Keengganan untuk saling belajar dan kurangnya pemahaman terhadap tradisi-tradisi agama lain juga merupakan faktor penting lain yang tidak boleh diluputkan. Karena itu, salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan sikap empatik antarumat beragama barangkali bisa ditempuh melalui pendidikan interreligius. Karangka dasar pendidikan ini memisalkan bahwa terdapat ruang bagi pemeluk agama yang berbeda untuk saling belajar dan terbuka sehingga diharapkan akan tercipta dialog antariman yang kondusif. 
Selain itu, pendidikan interreligius ini juga dimaksudkan tidak hanya menonjolkan ajaran salah satu agama mayoritas, melainkan juga merangkul ajaran agama-agama minoritas lainnya. Nilai-nilai kebaikan yang menjadi ciri khas dari masing-masing tradisi agama bisa dijadikan sumber belajar bersama untuk menumbuhkan sikap saling percaya dan menjauhkan wasangka curiga. Setiap agama tentu memiliki dogma ajaran yang berbeda-beda, tapi bukan berarti hal itu menjadi tembok penghalang untuk saling mengenal. Sebab, setiap agama sejatinya senantiasa menyerukan jalan kebaikan.
Gagasan pendidikan interreligius ini tampak semakin mendesak untuk digalakkan mengingat hampir tidak ada lagi ruang yang memisahkan kita dengan komunitas lain. Di lingkungan tempat tinggal, misalnya, mungkin saja ada tetangga kita yang kebetulan menganut agama atau paham yang berbeda. Pergaulan anak-anak di sekolah juga besar kemungkinan akan terjalin relasi interpersonal yang melibatkan banyak kepercayaan. Bahkan, di tempat-tempat umum kita pun acap bertegur-sapa dengan orang-orang yang berbeda keyakinan. Kondisi demikianlah yang pada akhirnya memaksa kita untuk saling terbuka dan menghargai agar dapat menghindari kesalahpahaman.

Suplemen Pendidikan Agama

Namun, patut kiranya ditegaskan kedudukan pendidikan interreligius di sini bukanlah dimaksudkan untuk menggeser atau merecoki mata pelajaran Pendidikan Agama yang sudah mapan di sekolah. Pun bukan pula hendak mendirikan sebuah aliran baru yang berbeda dengan keyakinan arus utama. Namun, pendidikan interreligius ini lebih tepat diposisikan sebagai suplemen tambahan untuk menyokong dan memperkaya praksis pengajaran Pendidikan Agama di lingkungan pendidikan. Sebab, praktik Pendidikan Agama selama ini hanya menekankan pola “pendekatan monoreligius”, siswa hanya sibuk belajar tentang agamanya sendiri (Suhadi dkk, 2016: xi—x). 
Karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk mendesain pembelajaran pendidikan interreligius yang mampu mencakup berbagai kepercayaan. Untuk bagaimana menyikapi keragaman, misalnya, guru dituntut tidak hanya menjelaskan secara teoretis di kelas, tapi juga mengajak siswa untuk mengamati bentuk keragaman itu secara langsung di lapangan. Dalam prosesnya, para siswa diminta mencatat atau merekam tradisi keagamaan apa saja yang dilakukan oleh masyarakat. Setelah itu, guru bisa meminta siswa untuk memaparkan hasil pengamatan mereka sembari menawarkan solusi yang diperlukan untuk merawat keragaman itu. Dengan begitu, kesadaran siswa untuk menghargai kemajemukan diyakini dapat tumbuh dengan baik.
Akhirnya, gagasan pendidikan lintas agama di atas tidak menutup kemungkinan akan mengundang gejolak di masyarakat lantaran dikhawatirkan akan mendangkalkan iman dan melakukan sinkretisme ajaran. Padahal, dengan mempelajari tradisi agama-agama lain tidak serta-merta mengurangi kadar kesucian ajaran agama itu sendiri. Apalagi jika kita pun sepakat dengan ujaran Hans Kung, seperti dikutip di awal tulisan ini, bahwa perdamaian sebuah negara akan sulit tercipta apabila dialog antaragama diabaikan begitu saja. Karena itu, merajut anyaman perbedaan menjadi rumah peradaban yang menyejukkan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Semoga. n 

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv