LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 21 April
983
Kategori Humaniora
Penulis Antara
LAMPUNG POST | Pebalap Wanita Diandra Gautama Jadikan Kritik sebagai Motivator
Diandra Gautama. (Foto : Antara)

Pebalap Wanita Diandra Gautama Jadikan Kritik sebagai Motivator

JAKARTA--Pebalap wanita Indonesia, Diandra Gautama, menjadikan tantangan dan kritik dari pihak luar sebagai bentuk motivasi guna mengembangkan bakat dan karir agar menjadi lebih baik.

Sebagai seorang pebalap wanita, Diandra mengaku pernah dipandang sebelah mata oleh pihak lain, apalagi jika lawannya merupakan para pembalap senior. "Karena mengawali balap langsung ikut di kejuaraan touring, lawannya itu pebalap-pebalap senior dan laki-laki. Di awal-awal menjuarai balap, sempat dibilang saya menang karena diberi kesempatan, dikritik juga cara mengemudinya," tutur Diandra, kemarin.

Namun semua tantangan tersebut menjadi motivator baginya untuk tampil lebih baik dan optimal. Berkat kritik dan tantangan itu akhirnya Diandra menjadi juara umum nasional kelas B5 (3200 cc) di ajang Mercedes-Benz Motorsport Club Race Championship, yakni menjuarai podium pertama selama 6 seri.

"Di situ merupakan pembuktian, terutama pada diri sendiri bahwa saya mampu bersaing dengan pebalap-pebalap senior lainnya yang pada awalnya meremehkan kemampuan saya," tutur dia. Diandra yang menjadi instruktur Nissan GT Academy 2016 juga menilai bahwa balap bukanlah olahraga kaum laki-laki semata.

"Bagi saya, balap bukan soal olahraganya laki-laki, namun sama halnya dengan olahraga lain. Balap merupakan wadah menyalurkan dan mengembangkan potensi yang kita miliki," ucap dia.

RADEN Ajeng (RA) Kartini dikenal sebagai sosok perempuan pejuang yang memelopori kesetaraan derajat kaumnya dengan laki-laki. Berkat perjuangannya di masa lalu tersebut, hari lahir Kartini setiap 21 April hingga kini senantiasa selalu diperingati sebagai salah satu bentuk penghormatan.

Bahkan, bukan hanya untuk RA Kartini. Kenyataannya, menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP dan PA) Yohana S Yembise, Hari Kartini turut jadi simbol penghormatan untuk sejumlah sosok pahlawan lain yang turut memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan seperti Cut Nyak Dien, Malahayati, atau Martha Christina Tiahahu.

“Sedikit mengenang perjuangan mereka, bahwa untuk mendapatkan kesetaraan, pendidikan menjadi sangat penting bagi perempuan. Jadi, itulah yang harus diutamakan,” ujar Yohana saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Jika Kartini saja sudah mampu unjuk gigi di masanya, di era serbamaju seperti sekarang, perempuan seyogianya lebih mampu bersiasat mengejar kesetaraan dengan bekal pendidikan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan persentase perempuan berpendidikan tinggi kini 60%.

Namun, sayangnya, ungkap perempuan pertama asal Papua yang dipercaya menjadi menteri pada Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla tersebut, kebanyakan perempuan berpendidikan di Indonesia lebih memilih di ranah domestik ketimbang berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan. Akibatnya, kesetaraan yang telah diperjuangkan Kartini belum bisa diteruskan maksimal.

Ia mencontohkan kondisi di dunia politik. Jumlah anggota parlemen perempuan periode 2014-2019 hanya 17,3% atau turun dari periode sebelumnya 18,2%. Itu menandakan masih ada kesenjangan antara perempuan dan laki-laki di level pemerintahan yang berarti juga perempuan belum benar-benar memanfaatkan potensi yang dimiliki.

“Potensi itu seyogianya bisa digali lewat jalur pendidikan. Perempuan sekarang juga harusnya bersyukur karena punya fasilitas sarana prasarana jauh lebih memadai ketimbang zaman Kartini,” cetusnya.

- See more at: http://mediaindonesia.com/news/read/101702/bersiasat-mengejar-kesetaraan/2017-04-21#sthash.XlSzb4hF.dpuf

BAGIKAN


loading...
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv