LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 21 April
7895
Kategori Opini

Tags

LAMPUNG POST | Panggil Aku Kartini
Buku panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. rullytricahyono.files.wordpress.com

Panggil Aku Kartini

INILAH tesis dari penelitian Pramoedya Ananta Toer "...Kartini tidak punya massa, apalagi uang, yang dipunyai Kartini adalah kepekaan dan keprihatinan, dan ia tulis segala perasaannya yang tertekan itu. Dan hasilnya luar biasa, selain melambungkan nama Kartini, suaranya bisa terdengar sampai jauh, bahkan sampai ke negeri asal dan akar segala kehancuran manusia pribumi...".
Tesis Pramoedya menggambarkan bahwa kaum wanita diciptakan tidak sama dengan kaum pria dan mereka saling memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Salah satu kelebihan yang diberikan kepada kaum wanita adalah kemandirian, yang digunakan untuk mengabdi kepada-Nya sebagai khalifah dan ide-idenya disumbangkan untuk kehidupan masyarakat.
Kemandirian adalah kodrat yang dimiliki oleh kaum wanita untuk bertanggung jawab atas semua perannya. Kemandirian merupakan  kompetensi untuk mengelola kehidupan dengan tidak tergantung kepada orang lain dan dengan penuh percaya diri. Hal ini ditunjukkan dengan sikap tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dan mampu mempertanggungjawabkan semua hasil kerjanya dengan berprinsip pada kebenaran dalam berpikir dan bertindak. Sifat otonom, penuh inisiatif, dan kontrol diri juga melekat pada ciri sifat kemandirian,  mengerjakan tugas dengan tindakan yang dilakukan atas kehendak sendiri, memiliki kemampuan berpikir dan bertindak secara kreatif dan mampu mengendalikan tindakan dan emosi untuk mengatasi masalah.
Kualitas kemandirian wanita tidak bisa dibiarkan begitu saja, tetapi perlu diberi intervensi. Mereka memerlukan pengalaman yang  diperoleh tidak hanya dari belajarnya secara mandiri, tetapi juga dari lembaga pendidikan formal dan nonformal, agar mampu memerankan dirinya dengan optimal. Kodrat mendidik yang sudah dimiliki kaum wanita harus tetap diasah dan diasuh dengan pola-pola pendidikan sesuai dengan tuntutan kekinian. Karena tidak dapat dielakkan, wanita adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya dan anak-anak mereka sebagai akar yang akan berfungsi sebagai penopang kehidupan masyarakat dan memperkokoh berdirinya bangsa.

Banyak Kesempatan

Keseriusan pemerintah untuk mengedukasi kaum wanita sudah tidak diragukan lagi. Kaum wanita sudah diberi banyak wadah untuk menunjukkan eksistensinya dan diberi kesempatan untuk memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Semboyan education for all dan demokratisasi pendidikan sudah tumbuh dengan baik di Indonesia. Tetapi, perlu dikaji lebih lanjut tentang prinsip equality dan equity terhadap kebijakan akses layanan pendidikan. Apakah semua kaum wanita dari berbagai kelompok (daerah, usia, dan golongan) sudah benar-benar mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan? Akses terhadap pendidikan hendaknya merata, semua penduduk memperoleh kesempatan pendidikan dan menikmati pendidikan secara bersama.
Menurut Coleman dalam bukunya Equality of Educational Opportunity, pemerataan pendidikan mengandung makna bahwa mereka tidak hanya sekadar mendapat kesempatan untuk mendaftar dan mendapat layanan pendidikan di sekolah, tetapi juga mendapat kesempatan untuk memperoleh hasil belajar yang dapat dimanfaatkan kembali untuk meneruskan pendidikan dan atau untuk bekerja. Dalam pemahaman ini pemerataan pendidikan bermakna luas, tidak hanya bersama-sama dalam memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga setelah menjadi peserta didik mereka harus diberi perlakuan sesuai dengan karakternya untuk mengembangkan dan mewujudkan potensi yang dimiliki.
Pemeratan pendidikan hendaknya mencakup equality of access, equality of survival, equality of output, dan equality of outcome. Apabila dimensi-dimensi tersebut menjadi landasan dalam penerapan konsep pemerataan pendidikan, kaum wanita dalam memerankan dirinya sebagai pendidik utama dan pertama tentunya akan lebih efektif, sehingga menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu bersaing.
Diperlukan rekayasa pendidikan untuk mengakomodasi terwujudnya dimensi-dimensi di atas, terutama untuk kaum wanita yang berada di daerah terluar dan tertinggal. Salah satunya dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan demikian, pendidikan dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan menjangkau yang tidak bisa secara langsung terjangkau. Kemajuan teknologi menawarkan solusi untuk penyediaan akses pendidikan dan pemerataan pendidikan kepada masyarakat yang bertempat tinggal di daerah terpencil untuk menjadi masyarakat pembelajar.
Pendidikan harus dapat memenuhi kebutuhan belajar kepada semua kaum wanita, karena wanita mempunyai kedudukan istimewa dalam menghadapi dan memecahkan masalah, baik secara personal, maupun sosial bersama-sama wanita lain dan kaum adam. Mudah-mudahan  sampai di penghujung kehidupan, kaum wanita tetap dipanggil Kartini, bukan yang lainnya. Semoga.

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv