LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 14 March
8317
Kategori Feature
Penulis Aripsah
Editor Delima

Tags

LAMPUNG POST | Menelisik Jejak Bung Karno di Bumi Sekala Brak (1)
Veteran pejuang kemerdekaan, Supriadi Supardi. (Foto : Lampost/Aripsah)

Menelisik Jejak Bung Karno di Bumi Sekala Brak (1)

LIWA--Usianya mendekati satu abad. Rambut, jenggot, dan kumisnya pun telah memutih. Namun, ingatannya akan serangkaian peristiwa di awal kemerdekaan Indonesia masihlah cemerlang.

Dia adalah Supriadi Supardi (93). Ia salah satu pelaku sejarah yang masih hidup dan tercatat sebagai veteran pejuang kemerdekaan. Perjuangan mengantarkan Supardi bermukim di Bumi Sekala Brak.

Masih jelas diingatannya saat ia bersama ribuan pasukan pejuang Siliwangi diminta Presiden Soekarno hijrah dari Jawa Barat menuju Kresidenan Lampung guna merevolusi pembanguan. Pria yang menghabiskan masa tua sebagai petani dan menetap di Pekon Way Petai itu adalah anggota BKR yang awal 1951 hijrah ke Lampung dari Bandung, Jawa Barat.
Saat itu Supardi di bawah pimpinan Didik Kartasamita menjalankan perintah Sang Proklamator untuk mengisi pembangunan dan memastikan tidak ada sisa-sisa penjajah setelah Indonesia merdeka pada 1945. “Kata Bung Karno revolusi politik selesai.

Saatnya merevolusi pembangunan. Kami berjiwa perang, dilatih membangun bersama masyarakat,” ujar Supardi mengenang perintah Bung Karno. Lelaki tua berpeci putih itu mengatakan ia bersama ribuan pasukan tiba di Lampung pada 1951. Kemudian mereka terbagi beberapa kelompok, disebar di beberapa wilayah.

“Saat itu pejuang Siliwangi dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang melanjutkan ke Sumatera Selatan. Ada yang ke Pringsewu dan Ulubelu, yang masuk wilayah Lampung Selatan.” Dia bersama ratusan anggota pejuang Siliwangi lainnya berangkat menuju wilayah Way Petai yang dulu masuk wilayah administrasi Bukitkemuning, Lampung Utara.

Saat tiba di Way Petai, rombongan disambut Kepala Desa Yusup dan satu rekannya, sedangkan warga lainnya bersembunyi ke hutan karena mengira mereka para serdadu tentara penjajah. Tidak jauh dari Pedukuhan Way Petai, tempat berdirinya Tugu Soekarno, menjadi titik awal dimulainya pembangunan dengan membuka hutan belantara menjadi pesanggrahan. Untuk bertahan hidup di tengah belantara hutan, Supardi dan pasukan lainnya mulai mengelola alam dan membuka hutan untuk merintis pembangunan di wilayah tersebut.

Pada November 1952, Presiden Soekarno mengunjungi mereka dan mengumpukan pasukan bersama warga setempat di pesanggrahan. Saat itulah Sang Proklamator menyerukan kepada para pasukan untuk memberi nama Sumberjaya.
LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv