LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 14 March
9279
Kategori Feature
Penulis Aripsah
Editor Delima

Tags

LAMPUNG POST | Menelisik Jejak Bung Karno di Bumi Sekala Brak (2)
Tugu Ir. Soekarno yang berdiri di depan Markas Koramil Sumberjaya. Sang proklamator juga memberi nama daerah Sumberjaya. (Foto : Lampost/Aripsah)

Menelisik Jejak Bung Karno di Bumi Sekala Brak (2)

LIWA--Tugu semen berdiameter satu meter dan tinggi empat meter di depan Markas Komando Resimen Militer (koramil) Sumberjaya, Lampung Barat, menjadi penanda kehadiran presiden RI pertama Soekarno di Lampung Barat di masa awal kemerdekaan.

Monumen bertuliskan Tugu Ir. Soekarno itu diperindah dengan lukisan petani berlatar pegunungan dan matahari. Sang Proklamator menginjak Bumi Sekala Brak pada 14 November 1952 untuk meninjau ratusan pasukan pejuang Siliwangi yang ditugaskan melakukan revolusi pembangunan di awal tahun 1950.

Adalah Supriadi Supardi (93), veteran pejuang kemerdekaan yang hijrah dari Bandung Jawa Barat ke Sumberjaya pada 1951 untuk menjalankan tugas revolusi pembangunan. Ia sekaligus menjadi saksi hidup Bung Karno mengunjungi Bumi Sekala Brak yang mengumpulkan ratusan pasukan bersama masyarakat, memberi motivasi, dan semangat revolusi pembangunan mengisi kemerdekaan.

Masih lekat di ingatan Supriadi Supardi ketika Bung Karno dengan suara lantang menyemangati seluruh pasukan untuk menanamkan kecintaan dan komitmen menyatukan Tanah Air, saat berkumpul di Pasanggrahan, yang kini lokasi Markas Koramil Sumberjaya. Bung Karno mengatakan kepada pasukan, perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah awal. Semua bekas wilayah Majapahit harus kita rebut karena Indonesia telah merdeka. Tidak boleh sejengkal tanah Bumi Pertiwi direbut kembali penjajah, kata Supriadi mengisahkan isi pidato Bung Karno saat berkunjung ke Sumberjaya pada 14 November 1952.

Satu hal yang tetap diingat pria hampir satu abad itu adalah saat Bung Karno meminta agar daerah itu diberi nama Sumberjaya dan menjadi Kota Kembang kedua setelah Bandung. "Dia mengambil batu kecil dari dalam kantong bajunya dan melemparkannya. Karena itu, dibangunlah tugu Bung Karno di sini, tutur Supriadi.

Pasukan yang mengawa, ujarnya, membelakangi Bung Karno untuk mengantisipasi serangan musuh. "Saya salah satu pasukannya. Ketika Bung Karno datang dan pidato, saya dan kawan-kawan justru tidak melihat muka beliau. Kami justru melihat sekeliling, mengantisipasi musuh yang bisa datang sewaktu-waktu," kata dia.

Menurut Supriadi, Bung Karno adalah presiden yang wajib dilindungi, bahkan hingga mempertaruhkan nyawa.
LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv