LAMPUNG POST | lampost.co logo
LAMPUNG POST | Memaknai Filsafat Budaya Lampung
Filsafat ulun Lappung. 1.bp.blogspot.com

Memaknai Filsafat Budaya Lampung

FILSAFAT sebagai induk ilmu (mother of knowledge) sudah diakui dan milik semua manusia yang cinta dan berminat pada ilmu, sains dan teknologi. Oleh karena itu, belajar filsafat merupakan langkah awal untuk mengenal lebih mendasar tentang apa dan bagaimana nilai guna dan manfaat ilmu itu sebenarnya. Kini “filsafat budaya Lampung” dalam kajian akademis di perguruan tinggi sudah difungsikan sebagai ilmu pengetahuan yang dibangun berbasis kerangka dasar konsep keilmuan untuk dijadikan landasan metodologi pengembangan ilmu budaya, yang difokuskan pada budaya Lampung.
Dalam perkembangannya, kini filsafat atau filosofi dapat dipahami sebagai pandangan hidup masyarakat suku Lampung, lebih dikenal dan disebut piil pesenggiri, yang terdiri dari jejuluk buadek, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan. Piil pesenggiri bersumber dari kitab undang-undang adat masyarakat Lampung, yaitu kitab Kuntara Rajaniti, Cempalo, dan Keterem. Filsafat hidup itu terbuka, fleksibel, dan mencakup berbagai bidang kehidupan masyarakat sehingga filsafat itu menerima masukan dari ajaran agama, ideologi, paham atau pemikiran yang dinamis dan kreatif sehingga dapat sesuai dengan dinamika pembangunan dan diterima oleh peradaban dunia.
Pandangan hidup juga bermakna sebagai local genius yang diterima dan berkembang karena kemampuannya bertahan dan mengakomodasi budaya luar, kemampuan mengintegrasi budaya luar ke dalam budaya asli, kemampuan mengendalikan, pemberi arah perkembangan budaya, terbina secara kumulatif, terbentuk secara evolusioner, tidak abadi, dan dapat menyusut. Berarti dapat dipahami, konsep local genius berkaitan dengan budaya dan masyarakat. Oleh karena itu, filsafat budaya Lampung secara keilmuan dapat dijelaskan juga melalui pendekatan filsafat sosial.
Budaya bermakna bagi manusia untuk memahami pelbagai perubahan yang sedang terjadi, sebab budaya merupakan proses perkembangan intelektual, spiritual, moral, etika, dan estetik. Budaya telah menjadi salah satu kategori teoritis dan substantif mengenai koneksi dan relasi yang signifikan dan berguna bagi pembangunan. Budaya berarti juga “pandangan hidup”, yang di kalangan masyarakat Lampung dikenal piil pesenggiri, dan bisa diartikan juga “karya dan praktik-praktik intelektual”, terutama aktivitas manusia yang berbudaya. Berarti, kajian budaya memerlukan teori budaya dan dapat dikaji secara parsial, sistemik, dan komprehensif. Sebab, budaya dapat dikembangkan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara terprogram dan berkelanjutan.
Dalam masyarakat plural terdapat keanekaragaman budaya, suku, bahasa, adat-istiadat, dan penganut agama, yang merupakan berkah dan kekayaan yang patut disyukuri. Namun, tak dapat disangkal, krisis di berbagai bidang kehidupan masyarakat merupakan fenomena yang mewujud dalam bentuk akumulasi nilai-nilai hedonistik, ketidakpedulian sosial, erosi ikatan-ikatan kekeluargaan dan kekerabatan, serta meluasnya dekadensi moral. Sikap menghalalkan segala cara dalam bidang ekonomi, hukum, politik, ideologi, sosial, dan budaya sudah dianggap kewajaran. Konsekuensi logis dari hal itu berdampak terhadap melambatnya keberlangsungan pembangunan. Antisipasinya, diperlukan pengembangan konsep-konsep budaya lokal yang dapat diterapkan dan dikembangkan sebagai energi bagi pembangunan nasional. Berarti, masyarakat kita membutuhkan kesadaran bersama untuk terus memahami dan mencari solusi-solusi budaya yang lebih efektif, efisien, berkelanjutan, dan berjangka panjang.
Pengembangan masyarakat berwawasan budaya lokal dikatakan berhasil jika kita mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Untuk itu, diperlukan pemberdayaan komunitas sosial yang bermakna memberikan kekuasaan, mengalihkan kekuatan dan mendelegasikan otoritas serta merupakan upaya untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan bagi masyarakat lokal sehingga terlaksananya percepatan dan dapat memperlancar pembangunan daerah yang lebih efektif dan efisien.
Pemberdayaan itu dapat menjadi strategi, langkah-langkah, upaya pendampingan, dan penguatan agar komunitas sosial benar-benar berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan. Untuk itu, paradigma pembangunan berwawasan budaya dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dengan memberi peran penting pada mereka sebagai subjek dan aktor pembangunan yang menentukan tujuan-tujuan mereka sendiri, menguasai sumber daya-sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan mengarahkan proses-proses yang memengaruhi kehidupan mereka sendiri. Berarti jelas, percepatan pembangunan menuju pemartabatan manusia melalui pembangunan berbasis budaya lokal perlu dilaksanakan. n

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv