LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 29 January
12238
Kategori Tumbai

Tags

LAMPUNG POST | Konsep Moral Ulun Lappung untuk Pembangunan
Moral. cyberdakwah.com

Konsep Moral Ulun Lappung untuk Pembangunan

PERMASALAHAN pembangunan di tingkat nasional maupun lokal ternyata masih terjadi krisis moral, rendahnya etika pembangunan; ketidakselarasan dan ketidaksesuaian antara apa yang direncanakan dengan implementasi di lapangan pada berbagai bidang; dengan kondisi semacam itu tampak terjadi di banyak daerah yang terindikasi pada adanya kondisi yang sejalan dengan berbagai upaya yang dilakukan guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Berarti dewasa ini dibutuhkan sarana perekonomian melalui pasar yang dijadikan pusat interaksi sosial masyarakat, terlebih lagi kondisi pasar yang cenderung kurang mengedepankan moral, etika, dan spiritual.
Dalam pandangan ulun Lappung, sebenarnya konteks itu mempertegas bahwa pembangunan berbasis moral menjadi kebutuhan masyarakat bangsa dan negara dalam proses reformasi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan pemerintahan pada era reformasi dewasa ini.
Ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya dan apa yang dikerjakan dalam proses pembangunan membutuhkan kajian akademik dan solusi yang aplikatif dan berimbang antara berbagai bidang pembangunan, termasuk bidang agama (iman, amal saleh, akhlak; moral, dan spiritual) agar tidak sekadar dijadikan simbol tanpa makna. Termasuk semakin langkanya sumber daya alam yang selama ini tereksploitasi secara masif dan tanpa kontrol yang cukup dari negara. Artinya, kedudukan dan peran manusia yang berkualitas sebagai pelaku pembangunan yang aktualisasinya berbasis moral semakin strategis agar pencapaian pembangunan daerah maupun nasional dapat tercapai secara efektif dan efisien, sesuai amanat konstitusi.

Nilai yang Diabaikan
Penelusuran berbagai permasalahan pembangunan bidang agama, moral dan spiritual sebenarnya sudah sejak lama dilaksanakan, semenjak negara ini berdiri dan diakui memiliki kedaulatan; tapi dewasa ini muncul kesan sikap intoleransi dan kerusuhan sosial semakin marak terjadi, persoalan moral dan etika seolah-olah makin terabaikan dalam aktualisasi nilai-nilai di berbagai bidang pembangunan; yang terindikasi dari masih rendahnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam masyarakat selama ini.
Padahal, agama tidak terlepas dari ilmu, pengetahuan, dan teknologi yang berkembang secara dinamis. Kelemahan dan rendahnya kemampuan kita mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran agama menjadi penyebab munculnya pandangan bahwa agama lahir sebagai puritanisme yang bersifat utopis sehingga dianggap tidak mampu menjawab berbagai permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat dan umat beragama. Padahal, warga masyarakat memahami bahwa agama menjadi sumber ajaran teologi (tauhid), akhlak, nilai, etika, moral, dan spiritual.
Mengapa agama menjadi penting bagi pembangunan? Sebenarnya memang fakta mengindikasikan, paling tidak ada tiga hal mengapa agama dibutuhkan oleh masyarakat dalam proses pembangunan. Pertama, dalam perspektif kepentingan sistem dan struktur kemasyarakatan, pranata agama merupakan sumber nilai dan norma-norma standar yang dapat memberikan keluhuran kerangka motivasi, etos dan etika kerja yang profesional. Kedua, dari aspek kepentingan individual, agama dapat memberi dimensi: keseimbangan dimensi spiritual dan dimensi material. Ketiga, dari aspek kepentingan kemanusiaan, agama mengajarkan dan menaruh kehormatan tertinggi kemanusiaan sehingga pemaknaannya menjadi penting bagi peradaban dan pengamanan hasil-hasil kreatif berupa perdaban baru yang telah dicapai oleh umat manusia dewasa ini.
Bagi warga masyarakat Lampung tentu saja dibutuhkan pemahaman tentang pembangunan berbasis moral yang didasarkan pemikiran filsafat; yang merupakan pemikiran reflektif-dinamis, yang dapat berubah dari waktu ke waktu, suatu konsep yang terbuka dalam arti selalu berkembang sesuai dengan keadaan, dan dalam mencari pemecahan problematika tergantung pada bidang yang dihadapi maupun cabang filsafat pembangunan yang dipakai sebagai objek formalnya.
Pemikiran filsafat pembangunan bersifat runtut (memperhatikan kaidah-kaidah logika), menyeluruh (mencakup seluruh aspek kehidupan), mendasar (sampai ke hal-hal yang fundamental), dan spekulatif (dapat dijadikan titik tolak bagi pemikiran berikutnya).
Sebagai contoh, bagaimana pemikiran reflektif dinamis itu dapat difungsikan sebagai konsep strategi pemberdayaan pedagang muslim dan pembangunan daerah yang terbuka, yang tentunya dapat memperjelas kiranya pemikiran filsafat pembangunan itu dapat dipahami, yang dapat diartikan sebagai strategi dan upaya konkret membangun ekonomi pedagang kecil pada pasar tradisional berbasis persamaan dalam sistem ekonomi Islam yang dapat difungsikan bagi keluarga serta dijadikan landasan nilai etika bisnis; dan konsep untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berguna bagi pembangunan daerah pada masa depan. n
LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv