2017 5 May
1631
Kategori Generasi Emas
Ilustrasi guru berkemampuan persuasif-inspiratif. www.panjimas.com

Guru dan Kemampuan Persuasif-Inspiratif

ADA statement menarik dari Deborah Tannen dalam The Power of Talk: Who Gets Heard and Why (Harvard Business School: 2013), bahwa kemampuan persuasif seseorang termasuk guru ialah dari bagaimana dia memiliki kemampuan berbicara. Guru laki-laki cenderung melakukan komunikasi verbal tegas dan gamang, sesekali dipenuhi keraguan. Akan tetapi, rata-rata guru perempuan selalu menjaga perasaan lawan bicaranya bahkan terkesan menutupi kebenaran.
Di atas semuanya, jika proses psikologis komunikasi semacam ini terus dipertahankan, para siswa akan merespons negatif dan cenderung melemahkan proses belajar-mengajar. Melihat bagaimana para guru berinteraksi dalam keseharian para murid, secara linguistik kecenderungan guru lelaki dan perempuan memang berbeda. Guru laki-laki lebih sering mengedapankan kata “saya” sebagai titik persuasif ke siswa, sedangkan guru perempuan lebih banyak menggunakan kata “kita” sebagai bentuk perlindungan psikologis demi menjaga lawan bicara, termasuk para siswanya.
Penelitian yang dilakukan Deborah Tannen itu menyiratkan pentingnya penggunaan kata secara proporsional jika bangunan komunikasi siswa dan guru di ruang belajar akan berlangsung menyenangkan. Memahami konteks psikologis anak, termasuk lingkungan suasana belajar-mengajar, menjadi penting memilih kata yang ingin digunakan.

Menjadi Inspiratif

Dengan melihat kemampuan persuasif guru melalui komunikasi juga dapat menarik jika kita mengingat dan bertanya, lebih banyak guru jenis mana ketika kita bersekolah dulu. Guru berjenis myopic yang berorientasi text-book dan kurikulum atau guru yang memiliki kemampuan membagi inspirasi? Jawabannya, lebih dari 90% guru kita berjenis myopic, yakni mereka hanya mampu melihat hal-hal yang bersifat kekinian, tetapi tak memiliki kemampuan melihat jauh ke depan. Seperti politikus, guru kita kebanyakan kurang memiliki inisiatif yang inspiratif.
Kebanyakan guru saat ini mewakili tipologi guru kurikulum, tetapi kurang memberi inspirasi karena tak memiliki keberanian mengajak anak-didiknya berpikir kreatif serta melihat sesuatu dari luar, mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.
Guru-guru kita saat ini terperangkap dengan kompetensi semu dan senangnya membangun batas-batas kekuasaan teritorial antara dirinya dan anak-didik. Perilaku internal jenis ini ialah belenggu yang disebut sebagai destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimiliki. Namun, tak bisa melihat jauh ke depan tentang harapan anak-didik mereka secara manusiawi.
Dalam dunia yang sangat hedonis dan serbakebendaan ini, faktor keikhlasan terasa tak bermakna dan benar-benar kehilangan makna. Hampir lebih dari dua dasawarsa ini para guru di Indonesia terlihat seperti tak menjumpai kata “ikhlas” dalam kamus hatinya.
Siapa mengajar siapa dan siapa belajar dari siapa menjadi tak jelas karena guru mengajar untuk bekerja dan pemenuhan kurikulum, bukan untuk masa depan anak-anak. Karena itu, sudah saatnya para guru memiliki kepekaan yang kuat dan memberi penekanan yang terus-menerus terhadap proses pembalajaran yang sangat kontekstual.

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI