LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 19 March
10456

Tags

LAMPUNG POST | Daya Rusak Narkoba
Akibat narkoba. antaranews.com

Daya Rusak Narkoba

TELEPON redaksi Lampung Post berdering, Sabtu (18/3/2017), pukul 11.30. Si penelepon mengaku bernama Ujang, warga Desa Bumiagung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Meminta kepada harian ini memperbaiki pemberitaan halaman pertama, jika tidak, dia akan mengerahkan massa dua mobil untuk merusak kantor.

Terdeteksi di telepon redaksi, Ujang menggunakan nomor telepon seluler 08217843XXXX. Sepertinya, warga ini terusik dengan berita Lampung Post berjudul Bersih-Bersih Kampung Narkoba yang terbit pada Sabtu kemarin. Sehari sebelumnya, kantor Polsek Tegineneng dirusak massa karena tidak terima atas ditangkapnya warga yang terlibat narkoba.

Antisipasi jangan sampai terganggu kerja jurnalistik Lampung Post dan Radio SAI 100 FM, beberapa menit kemudian, Kapolda Lampung Irjen Sudjarno mengirim satu peleton Brimob, Polwan, ditambah anggota Polsek Natar, Kedaton, dan Polres Pesawaran serta Lampung Selatan menjaga kantor harian ini jangan sampai ketidakpuasan warga terulang lagi seperti perusakan kantor Polsek Tegineneng.

Harian Lampung Post yang tergabung dalam grup Media Indonesia dan Metro TV, sejak awal bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memberantas peredaran narkoba di negeri ini. Menjalankan misi bebas dari barang haram itu, grup mewajibkan karyawan dan wartawan melakukan tes urine. Alhamdulillah, harian ini sudah dua kali tes urine.

Apresiasi pun diberikan oleh BNN. Karena awak harian menjadi pelopor perusahaan pers yang pertama di Lampung menggelar tes urine karyawan dan wartawannya. ďLampung Post menjadi jaringan gerakan antinarkoba, mudah-mudahan ini bisa dicontoh lembaga lainnya,Ē kata Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat BNN Lampung Edy Marjoni.

Edi menyaksikan sendiri tes urine bagi karyawan dan wartawan Lampung Post. Pertama, di sela-sela pelatihan di Marines Eco Park, Mei 2016. Kedua, menjelang HUT ke-42 Lampung Post, Agustus 2016. Hingga kini peredaran narkoba tidak lagi mengenal tempat, profesi, dan usia. Untuk menyuarakan pemberantasan narkoba di Bumi Lampung ini, dimulai dari internal.

Merapatkan barisan dan menumpas peredaran narkoba adalah sikap media ini. Bahkan, grup Lampung Post menerbitkan buku panduan pemberitaan berjudul Jurnalisme Narkoba. Buku yang ditulis oleh Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong. Dalam kacamata Usman, Jurnalisme Narkoba adalah panduan wartawan atau pers, seharusnya menyiarkan berita tentang peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.

Keterlibatan pers diharapkan mampu berkontribusi untuk menahan laju peredaran gelap narkoba. Jika pers atau media menyandang masalah dalam memberitakan narkoba, kata Usman, boleh jadi berita yang ditulis akan berdampak negatif bagi publik. Makin banyak problem yang disandang pemberitaan narkoba, makin besar dampak negatifnya. Jadi sangat aneh jika ada kelompok warga terganggu dengan berita penumpasan narkoba. ***

Sebagai institusi yang ikut mengedukasi rakyat, media sangat berperan strategis memberikan informasi bahaya narkoba dengan daya rusaknya yang amat besar. Saatnya Lampung beres-beres narkoba. Barang haram itu sudah masuk ke jantung anak bangsa hingga ke pelosok desa. Narkoba sangat mematikan harapan masa depan anak bangsa.

Bahkan, ketika wakil rakyat dari Senayan berkunjung ke Polda, akhir bulan lalu, dengan meminta aparat keamanan di Lampung dengan serius menumpas peredaran barang haram tersebut. ďLampung termasuk salah satu surga bagi bandar narkoba," kata pimpinan rombongan Komisi III DPR, Benny K Harman, di hadapan Kapolda Lampung.

Sepanjang 2016, Polda Lampung sudah menangani 964 kasus narkoba. Tingkat pengguna dan pemasok paling tinggi adalah di Bandar Lampung. Bagaimana dengan Tegineneng? Kecamatan itu tercatat sebagai kawasan darurat narkoba. Faktanya? Direktur Reserse Narkoba Polda Lampung Abrar Tuntalanai menjelaskannya.

Tegineneng sebagai zona merahódaerah darurat narkoba. Banyak penjahat, pengedar, juga bandar berdiam di kawasan Tegineneng. Bahkan, beberapa tahun lalu terbongkar sindikat tempat transitnya ganja dari Aceh dengan tujuan Pulau Jawa. Tidak saja di Tegineneng, Lampung Utara, juga Mesuji, dan kabupaten lainnya sudah merajalela peredaran narkoba.

Survei BNN dan Universitas Indonesia, tahun 2011 terungkap angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 2,2% atau 4,2 juta orang dari total populasi penduduk (berusia 10ó60 tahun). Pada 2014, terdapat 4,5 juta penduduk Indonesia terlibat peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.

Jumlah tersebut terus bertambah menjadi 5,1 juta orang pada 2015. Dari angka pengguna tadi, tercatat jumlah kematian akibat narkoba sebanyak 40 orang per harinya. Bagaimana di Lampung? Di sini, di provinsi ini, angka pengguna tercatat 72 ribu orang. Angka itu bertambah karena Lampung termasuk jalur perlintasan peradaran dan surga bagi bandar narkoba.

Patut menjadi catatan penting, penyalahgunaan narkoba berkaitan erat dengan kemiskinan dan pengangguran. Salah satu jalan yang paling cepat kaya adalah ikut terlibat dalam perdagangan narkoba dengan menjadi pengedar. Inilah yang menggiurkan anak bangsa menjadi pengedar juga bandar sekaligus menjadi pemakai.

Dengan eksekusi mati, pengedar dan bandar narkoba paling tidak akan berpikir ulang mengedarkan narkoba di Lampung ini. Gerakan masif yang mematikan masa depan anak bangsa dengan narkoba itu bersiap-siaplah menghadapi regu tembak. Suara dor yang menyalak dari senjata api aparat tidak berhenti jika masih ada praktik perdagangan gelap narkoba. ***
LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv