LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 20 May
7034
Kategori Internasional
Penulis MTVN
Editor Winarko
LAMPUNG POST | AS Pulangkan Seorang Pencari Suaka asal Indonesia
Ilustrasi. MTVN

AS Pulangkan Seorang Pencari Suaka asal Indonesia

Washington -- Arino Massie, salah seorang warga Indonesia pencari suaka di negara bagian New Jersey, dideportasi melalui bandar udara internasional John F. Kennedy di kota New York, Amerika Serikat (AS).

Arino di tahan oleh dinas imigrasi Amerika (ICE), sejak 8 Mei lalu bersama tiga pencari suaka lainnya: Saul Timisela, Rovani Wangko, Oldy Manopo. Arino pun dideportasi pada Kamis 18 Mei.

Mereka ditangkap ketika lapor diri yang merupakan kewajiban mereka setiap tahun, dan mendekam di tahanan imigrasi di kota Elizabeth, negara bagian New Jersey. Mereka ditangkap karena dinilai melanggar hukum imigrasi Amerika.

Sesuai pernyataan tertulis ICE disebutkan bahwa, "Warga asing yang memasuki AS secara ilegal dan mereka yang melanggar izin tinggal atau ketentuan visa lainnya telah melanggar UU AS dan bisa menimbulkan ancaman bagi keamanan publik dan nasional."

Menurut Pendeta Seth Kaper-Dale dari Reformed Church of Highland Park, di New Jersey, yang selama ini menjadi advokat keempat para pencari suaka itu, ia mendapat konfirmasi langsung dari Arino melalui telepon, pukul 11:30 pagi. Pada saat itu Arino sudah berada dalam pesawat dan siap terbang ke Indonesia.

"Padahal, pihak imigrasi baru memberitahu pengacara Arino bahwa permohonan izin tinggalnya ditolak, satu setengah jam sebelumnya, yakni jam 10.00 pagi," ujar Pendeta Seth Kaper-Dale, kepada VOA Indonesia, Jumat 19 Mei 2017.

"Tampaknya Arino sudah disiapkan untuk dideportasi sejak dini hari, namun selama itu ia tidak boleh menghubungi keluarga maupun orang lain, sampai ia berada di dalam pesawat," imbuhnya.

Pendeta Seth Kaper-Dale mengatakan mereka adalah bagian dari sejumlah warga Indonesia yang datang ke AS pada tahun 1990-an dan kemudian mengajukan suaka beberapa tahun setelah itu.

Permohonan suaka mereka akhirnya ditolak karena dianggap terlalu lama menunda pengajuan permohonan resmi suaka. Penolakan suaka itu berujung dengan keluarnya perintah deportasi, namun tahun 2013 sejumlah warga Indonesia tersebut mendapat izin tinggal sementara dari pemerintahan Obama.

Mereka diizinkan tinggal di komunitas mereka, dengan pengawasan rutin dan diharuskan melaporkan ke petugas imigrasi secara berkala.

Arino, Saul, Rovani, dan Oldym merupakan diaspora Indonesia pertama di negara bagian ini yang diciduk petugas imigrasi setelah pemerintahan Trump memperketat aturan imigrasi Januari lalu. Kebijakan imigrasi pemerintahan Trump jauh lebih ketat, menarget semua imigran gelap, termasuk yang tak memiliki catatan kriminal.

Selain mengharapkan agar Presiden Trump memperhatikan nasib anak-anak mereka yang punya kewarganegaraan Amerika, serta para pencari suaka lainnya, Pendeta Seth Kaper-Dale, juga menyatakan tidak akan tinggal diam. Ia meminta dukungan sejumlah anggota Kongres AS baik di tingkat Senat maupun DPR.

Katanya,salah seorang anggota Kongres tengah mempersiapkan RUU untuk melindungi para pencari suaka dari Indonesia, yakni Indonesian Family Refugee Protection Act atau RUU Perlindungan Keluarga Pengungsi Indonesia yang pernah diajukan tahun 2011, 2012 dan 2013 lalu, namun hingga saat ini belum berhasil.

Tak terkait Trump

Deportasi dari WNI pencari suaka ini menurut keterangan pihak Kementerian Luar Negeri RI tidak terkait dengan kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump.

Dalam keterangannya, Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu RI menyebut KJRI New York terus memantau perkembangannya. "Deportasi ini tidak terkait dengan kebijakan Presiden Trump," ujar Iqbal, dalam keterangannya, Rabu 10 Mei 2017 lalu.

"Mereka masuk (AS) tahun 2000 dan meminta suaka, namun sudah ditolak sekitar tahun 2012. Jadi deportasinya adalah sebagai pelaksanaan dari keputusan penolakan suaka tersebut," imbuh Iqbal.

Sementara Konsul Jenderal RI di New York Abdul Kadir Jaelani yang dihubungi Metrotvnews.com, Rabu 10 Mei menyebutkan bahwa keempat orang ini masih berstatus WNI.

"Pihak KJRI sudah menelepon pihak imigrasi dan akan menemui para WNI mungkin lusa karena sesuai aturan baru bisa ditemui setelah 48 jam sejak penangkapan," lanjut Abdul.

Abdul menjelaskan, empat WNI ini sebenarnya sudah mendapatkan perintah pemulangan atau "order of removal". Namun pelaksanaannya ditunda karena alasan kemanusiaan.

Menurutnya, keempat WNI tersebut berdomisili di New Jersey dan tak berpindah-pindah. Keempat WNI ini adalah umat Kristiani yang lolos dari penganiayaan di Indonesia pada 1990-an silam. Mereka termasuk dalam delapan kelompok WNI yang diberi masa tinggal sementara oleh AS pada 2013.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv