LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 12 April
1797
LAMPUNG POST | Tragedi Pelayaran Berulang
Ilustrasi kebakaran kapal. kompas.com

Tragedi Pelayaran Berulang

TRAGEDI kebakaran kapal penumpang yang berlayar di Selat Sunda terulang. Senin (10/4/2017), dek Kapal Motor Mutiara Persada III jurusan Tanjung Priok-Panjang terbakar di selatan Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten, sekitar pukul 02.00.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, 116 penumpang berhasil dievakuasi ke KM Mutiara Timur I. Meskipun demikian, hal ini tidak hanya menambah catatan kecelakaan kapal, tetapi juga sinyal kuat transportasi laut di Selat Sunda jauh dari aman.

Pada 28 Januari 2011 ketika Kapal Motor Penumpang Lautan Teduh 2 yang mengangkut 567 penumpang terbakar di dekat perairan Pelabuhan Merak, Banten, dalam perjalanan menuju Lampung. Kebakaran itu mengakibatkan 13 penumpang meninggal dunia.

Kebakaran kapal pun terjadi lagi di perairan Bakauheni pada KMP Bukit Samudera Perkasa (BSP) 1 pada 3 Agustus 2011. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini tentu menimbulkan trauma bagi pengguna jasa transportasi rakyat.

Pelayaran Selat Sunda amat vital sebagai jalur transportasi utama penghubung Pulau Jawa dan Sumatera. Sebagai transportasi andalan antarpulau, kecelakaan kapal yang acap terjadi tentunya akan menurunkan kepercayaan masyarakat.

Seluruh pihak terkait harus mengantisipasi tragedi moda transportasi laut. Bukan hanya terbakar, gangguan pelayaran seperti rusak mesin karena usia kapal yang uzur, kesulitan bersandar, bahkan tabrakan pernah terjadi di Selat Sunda.

Terlebih trip pelayaran di Selat Sunda cukup tinggi, dengan 58 kapal yang melayani penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni—Merak setiap harinya. Jumlah itu masih ditambah dengan rute tol laut Pelabuhan Panjang—Tanjung Priok.

Tragedi armada laut acap dari hal sepele. Jika dicermati, sebagian kecelakaan kapal disebabkan kelalaian manusia. Seperti yang terjadi di KM Mutiara Persada disebabkan korsleting mesin kendaraan penumpang yang tetap menyala saat kapal berlayar.

Padahal, untuk menjaga keselamatan pelayaran telah diatur UU No. 17/2008 tentang Pelayaran. Pihak pelabuhan juga telah mengeluarkan aturan kepada penumpang untuk mematikan mesin kendaraan saat berlayar. Nyatanya aturan itu justru dilanggar.

Aturan-aturan itu semestinya tidak disepelekan. Apalagi risiko kecelakaan di laut berdampak dua kali lebih besar dibanding di darat. Sebab, saat kecelakaan, meski penumpang bisa selamat dari kapal, belum tentu selamat di tengah lautan.

Sudah saatnya, pihak pelabuhan, perusahaan pelayaran, hingga penumpang lebih memperhatikan keselamatan. Terlebih arus mudik Lebaran kian dekat. Kita tidak ingin tragedi terus terulang dan menimbulkan kerugian materi hingga menelan korban jiwa. n

 

BAGIKAN


LAMPUNG POST | Manuver Rizieq Shihab Sia-sia?

Manuver Rizieq Shihab Sia-sia?

26 May 2017 16:00:00

LAMPUNG POST | Kecanduan Medsos dan Anak

Kecanduan Medsos dan Anak

27 May 2017 00:30:00

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv