LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 17 April
7048
Kategori Opini
Editor Sri Agustina

Tags

LAMPUNG POST | Sinergi Transportasi Multimoda di Balamekapringtata
Ofyar Z Tamin, Rektor Institut Teknologi Sumatera, Wakil Ketua I Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Lampung. (Dok.Lampost)

Sinergi Transportasi Multimoda di Balamekapringtata

LAMPUNG menjadi salah satu provinsi yang mendapatkan berkah infrastruktur transportasi, mulai dari pengembangan bandara, jalan tol, jalan raya, pelabuhan, bantuan bus, hingga bantuan teknologi informasi (intelligent transportation systems/ITS). Hal ini perlu menjadi momentum bagi Lampung untuk melakukan reformasi sistem transportasi.

Di sisi lain, terkait pengembangan kawasan, telah muncul dan berkembang kawasan aglomerasi Balamekapringtata (Bandar Lampung, Metro, Kalianda, Pringsewu, dan Gedongtataan). Sebagai ibu kota provinsi, Kota Bandar Lampung bertindak sebagai point of interest dari kawasan aglomerasi Balamekapringtata yang berkembang cepat dalam segala bidang, baik dari sisi perekonomiannya maupun dari sisi jumlah penduduk.
Kegiatan perekonomian yang sedemikian besar berdampak pada daerah lain yang berada di sekitar wilayah kota, misalnya Kabupaten Lampung Selatan (Kalianda dan Natar), Kotamadya Metro, Pesawaran, dan Pringsewu. Aktivitas transportasi antardaerah tersebut telah makin berkembang seiring dengan bergantungnya antardaerah satu dengan daerah lain. Masing-masing daerah memiliki ciri khas yang saling melengkapi kebutuhan daerah lain.
Dalam perkembangannya, muncul beberapa permasalahan umum transportasi di kawasan aglomerasi Bandar Lampung dan sekitarnya, meliputi tidak seimbangnya pertambahan jaringan jalan serta fasilitas lalu lintas dan angkutan bila dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang berakibat pada meningkatnya volume lalu lintas. Kemudian, meningkatnya mobilitas orang, barang, dan jasa, serta menurunnya kondisi fisik sistem sarana dan prasarana transportasi yang tersedia.
Lalu, permasalahan pelayanan angkutan umum, kondisi jaringan jalan yang belum/kurang memadai, serta yang terpenting adalah kondisi perkembangan kota yang tidak diikuti dengan struktur tata guna tanah yang serasi (tata ruang belum terpadu).

Tantangan pembangunan infrastruktur transportasi di kawasan aglomerasi Bandar  Lampung dan sekitarnya adalah terkait dengan pola pergerakan yang harus dicermati dengang baik. Karena seiring dengan perkembangan kawasan, perkembangan jumlah penduduk, dan perkembangan ekonomi daerah, sebaran asal dan tujuan menjadi sangat kompleks, lintas batas administrasi wilayah apalagi jika dikaji melalui telaah antarmoda.

Sistem Transportasi Terpadu  

Sebagai suatu kawasan yang tersebar luas, konsep pembangunan infrastruktur transportasi yang berbasis pada angkutan massal harus menjadi keniscayaan. Transportasi massal dikembangkan dalam kerangka peningkatkan aksesibilitas dan mobilitas serta meningkatkan pemerataan pembangunan bagi semua kalangan.
Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan transportasi massal agar sesuai dengan karakteristik wilayah aglomerasi Bandar Lampung dan sekitarnya, yaitu dengan memperhatikan kondisi infrastruktur transportasi eksisting yang masih memungkinkan penataan operasional jaringan moda angkutan massal yang fleksibel, kondisi kebutuhan transportasi pada masa mendatang yang berdasarkan proyeksi penduduk dan proyeksi jumlah kendaraan bermotor terdapat potensi pergerakan yang cukup besar. Untuk itu, dibutuhkan sistem transportasi publik dengan daya angkut yang cukup besar (angkutan massal dengan sistem jaringan trayek pengumpan/feeder yang andal, kondisi perkembangan sistem tata guna lahan yang belum terlalu padat (khususnya di luar perkotaan Bandar Lampung) sehingga memudahkan jika dibutuhkan pembangunan infrastruktur transportasi yang baru.
Dengan tata guna lahan yang masih belum didominasi oleh lahan terbangun tersebut, jaringan transportasi dapat mengarahkan pembangunan ke wilayah prioritas pengembangan wilayah serta yang terpenting adalah kondisi sistem aktivitas masyarakat kawasan aglomerasi Bandar lampung dan sekitarnya memunculkan adanya kawasan-kawasan fungsional di dalam suatu wilayah administratif. Terkadang dalam satu wilayah asministratif terdapat lebih dari satu kawasan fungsional. Kawasan-kawasan fungsional tersebut kemudian disebut dengan pusat kegiatan yang juga merupakan pusat bangkitan dan tarikan pergerakan.

Langkah Cepat

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, terdapat beberapa langkah cepat (quick wins) yang harus dilakukan, yaitu:
Percepatan pembangunan infrastruktur pendukung dalam rangka percepatan pembangunan kawasan aglomerasi Bandar Lampung dan sekitarnya, yaitu perlunya percepataan penataan hierarki jaringan jalan, peningkatan kapasitas jalan beserta penyediaan fasilitas pendukung yang memadai, integrasi kebijakan pembangunan dan pemeliharaan jaringan transportasi antarwilayah di kawasan aglomerasi Bandar Lampung dan sekitarnya.
Percepatan pembangunan fasilitas untuk integrasi antarmoda.
Beberapa yang dapat dilakukan di antaranya dengan meningkatkan coverage area (hierarki yang jelas dan terarah antara trunk route/rute utama dan feeder route/rute pengumpan), memberlakukan sistem one ticketing system (e-ticket), integrasi terminal dan stasiun, integrasi rute, peningkatan sistem informasi manajemen (SIM) angkutan yang terpadu dan mudah diakses masyarakat.
Penataan hub public transport di kawasan perkotaan Bandar Lampung.
Tahapan ini dilakukan dengan meningkatkan dan memperkuat jaringan pelayanan angkutan umum lintas wilayah seperti yang telah dilakukan pada angkutan trans-Bandar Lampung, trans-Lampung, dan rencana angkutan kereta api Bandara Radin Inten II menuju Kota Bandar Lampung. Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai seperti infrastruktur terminal dan stasiun serta halte/shelter yang memadai di setiap wilayah yang memudahkan koneksi dan mode transfer bagi penumpang.
Strategi pengurangan jumlah kendaraan pribadi.
Manajemen kebutuhan transportasi merupakan serangkaian strategi yang mempunyai tujuan untuk mengubah kebiasaan melakukan perjalanan (bagaimana, kapan, dan di mana masyarakat melakukan perjalanan) dalam kaitannya untuk meningkatkan efisiensi sistem transportasi dan mencapai tujuan perencanaan spesifik. Beberapa lingkup MKT di antaranya termasuk:
Peningkatkan perencanaan elemen-elemen infrastuktur transportasi yang berbasiskan pejalan kaki, seperti penyeberangan jalan, jalur pejalan kaki, dan lainnya.
Fasilitas dan lingkungan yang ramah sepeda (bicycle-friendly).
Subsidi ongkos angkutan umum bagi pekerja Flexible working hour bagi pekerja, untuk mengurangi kemacetan pada jam-jam sibuk biaya penggunaan jalan saat jam-jam sibuk (road pricing).
Pembangunan kawasan berbasis angkutan (transit oriented development/TOD). TOD adalah sebuah komunitas bangunan mix-used yang mendorong masyarakat untuk tinggal dan beraktivitas di area kawasan yang memiliki fasilitas transportasi umum dan menurunkan kebiasaan masyarakat mengendarai mobil pribadi. Terdapat beberapa keuntungan dalam menggunakan sistem pengembangan TOD yang terbagi menjadi tiga faktor, yaitu faktor lingkungan yang akan mengurangi kemacetan dan intensitas kendaraan pribadi, mengurangi konsumsi dari bensin untuk kendaraan, memperbaiki kualitas udara, faktor fisik yang akan mengurangi biaya pembuatan jalan dan fasilitas parkir, menaikkan nilai dari sebuah properti, menaikkan pajak dari sebuah properti, dan faktor sosial akan menaikkan interaksi sosial dalam kawasan.
Provinsi Lampung dengan segala berkah, potensi, dan permasalahannya harus mampu menangkap semua ini dalam kerangka peluang menuju kemajuan. Munculnya kawasan aglomerasi akan menimbulkan disparitas desa-kota. Terkonsentrasinya kegiatan ekonomi di suatu tempat akan mengakibatkan terjadinya mobilitas penduduk ke tempat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan daerah asal ditinggalkan oleh penduduknya dan kegiatan ekonomi berjalan lambat. Semakin jauhnya jarak antara penduduk kaya dan penduduk miskin merupakan masalah yang perlu diselesaikan. Masalah ini dapat dieliminasi dan dikikis secara perlahan-lahan dengan melakukan kaji ulang terhadap strategi pembangunan, khususnya pembangunan infrastruktur sehingga wilayah-wilayah terbelakang dapat mengejar ketertinggalannya menuju pada kondisi merata. Infrastruktur memiliki peran yang sangat penting dalam sistem perekonomian. Semakin baik keadaan infrastruktur, semakin baik pula pengaruhnya terhadap keadaan ekonomi. Infrastruktur merupakan urat nadi perekonomian, yang menentukan lancar atau tidaknya kegiatan perekonomian. n

 

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv