LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 15 April
3466
LAMPUNG POST | Sebab Dia Hidup
Wandi Barboy, wartawan Lampung Post. Dok. Lampung Post

Sebab Dia Hidup

PERKENANKANLAH saya mengawali tulisan menyambut Paskah dengan memuat puisi Joko Pinurbo, akrab disapa Jokpin, berjudul Celana Ibu.

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya

mati di kayu salib tanpa celana

dan hanya berbalutkan sobekan jubah

yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit

dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang

ke kubur anaknya itu, membawakan celana

yang dijahitnya sendiri.

“Paskah?” tanya Maria.

“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,

Yesus naik ke surga. (2004)

Demikian puisi bernuansa Paskah yang terkesan menggelitik, namun tetap memiliki makna yang mendalam. Jokpin adalah penyair yang kuat dalam metafora celana, sarung, kamar mandi, dan lainnya. Ia seorang yang terus "menemukan" roh puisinya sendiri. Celana ibu, hemat saya, salah satu puisinya yang sangat kuat metafora dan sisi religiusitas, khususnya tradisi Kristen Katolik.

Dalam salah satu sesi perbincangan dengan sebuah stasiun televisi nasional, Jokpin mengungkapkan dia sering membaca Injil. Dari pembacaannya itu, ia mengaku menemukan satu penghayatan iman yang sesungguhnya bisa diperkaya.

Menurut Jokpin, puisinya adalah refleksi kritis atas budaya patriarki yang menguat dalam teologi Kristen. Ia melihat ruang kosong itu dan eureka! lahirlah puisi Celana Ibu.

Itu Jokpin. Bagaimana saya? Di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), tempat saya menjadi salah satu jemaat di HKBP Tanjungkarang atau HKBP Lungsir, topik Jumat Agungnya adalah Yesus menyelamatkan kita (Jesus do na palua hita). Sedangkan almanak HKBP pada bulan ini, yaitu April 2017, bertemakan Kematian dan kebangkitan Yesus yang menghidupkan (Hamamate dohot haheheon ni Jesus do na pangoluhon).

Lalu, ayat bulanannya tertera dalam Kitab Filipi 2: 7—8. Nats itu berbunyi: melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Yesusku telah mati bagiku, bagimu, dan untuk kita. Menyambut Paskah di hari Minggu, kutuliskan catatan ini. Saya merenungi diri bahwa dengan kematian dan kebangkitan Yesuslah hidup terasa “hidup”. Lamat-lamat terdengarlah lagu rohani Kristen favoritku: Sebab Dia Hidup.

Sebab Dia hidup, ada hari esok.

Sebab Dia hidup, ku tak gentar.

Karena kutahu, Dia pegang hari esok.

Hidup jadi berarti sebab Dia hidup.

Selamat menyambut Paskah. Tabik. n

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv