LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 7 April
5052
LAMPUNG POST | SETITIK AIR: Air Mata Khadijah
Eka Setiawan, wartawan Lampung Post. Dok. Lampung Post

SETITIK AIR: Air Mata Khadijah

PEMBACA yang budiman, masih ingatkah kisah Rasulullah dan Siti Khadijah yang menggetarkan hati umat Islam. Dikisahkan dalam riwayat, suatu ketika Rasulullah saw pulang dalam keadaan sangat letih dari medan dakwah. Ketika hendak masuk rumah, Khadijah biasanya menyambut beliau berdiri di depan pintu.

Ketika Khadijah hendak berdiri menyambut suami tercinta, Rasulullah saw berkata, “Wahai Khadijah, tetaplah di tempatmu.” Saat itu Khadijah sedang menyusui anaknya, Fatimah, yang masih bayi. Rasulullah sangat mengerti dengan kesetiaan Khadijah, Rasulullah saw takjub dengan pengorbanan Khadijah. Meskipun dalam keadaan lelah menjaga rumah tangganya, meskipun dalam keadaan letih dalam memelihara anaknya, Khadijah masih sempat menunjukkan kesetiannya kepada sang suami walau dengan hal yang sederhana.

Bahkan, seluruh harta bendanya diberikan kepada Nabi demi perjuangan Islam. Lebih dari itu, jiwa dan raganya diperuntukkan bagi Islam. Tidak jarang Khadijah menahan lapar sambil menyusui anaknya, Fatimah ra, sehingga yang keluar bukan air susu lagi, melainkan darah. Melihat Khadijah letih menyusui anaknya, Rasulullah mengambil Fatimah dan diletakkan di tempat tidurnya. Gantilah Rasulullah berbaring di pangkuan sang istri. Karena Rasulullah begitu lelah dan letih dari mendakwahkan Islam kepada umatnya yang menolak seruannya, beliau pun tertidur di pangkuan sang istri. Katika itulah Khadijah dengan belaian kasih sayang membelai rambut beliau.

Tak terasa, air mata Khadijah al-Kubra menetes mengenai pipi Rasulullah saw. Nabi pun terjaga, “Wahai Khadijah kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta bendamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?”

Khadijah al-Kubra berkata, “Wahai, Suamiku; wahai, Nabi Allah. Bukan itu yang aku tangiskan. Dulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki kebangsawanan, kebangsawanan itu pun aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai, Rasulullah, sekarang ini aku tidak memiliki apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.”

“Wahai, Rasulullah, seandainya aku telah mati, sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, kemudian engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, engkau hendak menyebrangi sebuah sungai, dan engkau tidak menemukan satu perahu pun ataupun jambatan, maka engkau gali lubang kuburku, engkau gali kuburku, kemudian ambillah tulang-belulangku, engkau jadikan jembatan sebagai jalan menyeberangi sungai itu untuk menemui umatmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, ingatkan mereka tentang kebenaran Allah, dan ajarkan kepada mereka tentang syariat Islam wahai, Rasulullah." Dan, Rasulullah saw pun menangis. n

Begitu hebatnya perjuangan dakwah Rasulullah didampingi istri tercintanya, Siti Khodijah. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv